Saat ini saya berada dalam ruangan ber AC,
full music, dan tentunya damai bukan karena semua fasilitas yang ada, namun
kondisi ruhiyah yang begitu sejuk tempat ini bernama ‘Studio Persada’ di
perkampungan heterogen Semanggi. Apa yang saya rasakan disini sungguh jauh
berbeda dengan apa yang saya alami beberapa hari lalu di jalan. Panas, debu,
bising suara klakson seperti berada di pelataran Afrika. Saat itu saya sedang
berburu dengan waktu, menghadiri persentasi kepemudaan adalah tujuan saya,
namun naas tak dapat ditampik. Emm..bukan naas sebenarnya, lebih tepatnya ujian
kesabaran tak dapat dihindari.
Jam 16.00 saya putuskan untuk berangkat.
Sisa-sisa jilatan matahari masih dapat saya rasakan dari aroma Sahara yang
khas. Berharap tak akan terlambat, saya pastikan mengendarai motor dengan
kecepatan lumayan tinggi namun tetap waspada. Pemandangan yang cukup
mengejutkan ketika dihadapkan antrian kendaraan yang mengular puluhan meter.
Tak ingin tertinggal berita, tanpa sengaja saya mendengar seorang pengendara
menyebut-nyebut SBC (Solo Batik Carnival). Aha…ini rupanya yang jadi biang
keladi. Pesta rakyat Surakarta ini bukan point utama sebenarnya, yang menjadi
masalah adalah pengendara atau komsumen transportasi yang tidak sabar dengan
keadaan. Saya percaya bahwa banyak dari mereka atau sebagian besar para
pengendara bukanlah kaum papa dan marjinal yang tidak paham dengan navigasi dan
rambu-rambu lalu lintas. Anak SD pun paham jika lampu merah berarti berhenti,
kuning tana peringatan dan hijau berarti diperbolehkan untuk melaju. Bahkan
rambu-rambu ini merupakan sebuah hasil konvensi yang dilaksanakan di Winna
Austria pada 1968 silam. Oleh karenanya tidak ada alasan untuk tidak paham dan
mengerti, yang ada hanyalah alibi tak melihat rambu-rambu khususnya dalam kasus
lampu merah yang saya alami beberapa hari lalu.
Ini bukan kali pertama saya harus berjibaku
dengan kemacetan, Solo yang sebentar lagi menjadi kota wisata internasional
karena batiknya tentu tak dapat menghindari membengkaknya kapasitas kendaraan
bermotor. Seberapa banyak kendaraan yang ada, asal kita sebagai warga Negara
yang baik dapat mematuhi peraturan lalu lintas yang ada, juga kesabaran yang
tinggi tentunya masalah-masalah ini dapat kita nikmati bersama dengan senyum
merekah tentunya.
Atau perlukah pendidikan lalu lintas
disosialisasikan di masyarakat? Agar tak ada lagi perlombaan liar saat lampu
merah menyala? Agar tak ada lagi polusi suara akibat klakson yang selalu
dibunyikan tanda keridaksabaran?
Semuanya ada dan nyata, tinggal bagaimana
kita menyikapinya. Hal terbaik yang dapat kita lalulakan adalah patuhi selalu
rambu-rambu yang ada, bukan untuk orang lain namun juga untuk diri kita
sendiri.
Balik lagi kepada diri kita sendiri. Kenapa ngga kita mulai dari diri sendiri? Saya sudah sejak lama menggunakan Transjakarta dan berjalan kaki untuk mengurangi kemacetna. Memang tidak memberi dampak yang berarti, tapi laam kelamaan ayah dan kakak saya yg biasanya membawa mobil mulai menggunakan angkutan umum, teman2 sama yg baisa membawa kendaraan pribadi mulai beralih ke Transjakarta juga. Itulah perubahan, butuh proses yg sangat lama, tapi setidaknya sudah memberi sedikit harapan :)
ReplyDeleteTerima kasih, salam kenal :)
Balik lagi kepada diri kita sendiri. Kenapa ngga kita mulai dari diri sendiri? Saya sudah sejak lama menggunakan Transjakarta dan berjalan kaki untuk mengurangi kemacetan. Memang tidak memberi dampak yang berarti, tapi laam kelamaan ayah dan kakak saya yg biasanya membawa mobil mulai menggunakan angkutan umum, teman2 sama yg baisa membawa kendaraan pribadi mulai beralih ke Transjakarta juga. Itulah perubahan, butuh proses yg sangat lama, tapi setidaknya sudah memberi sedikit harapan :)
ReplyDeleteTerima kasih, salam kenal :)
Deni....apa kabar??
ReplyDeletemasih ingatkaah?? dini peace camp..
:)
you're right Deny...
perubahan memang proses berkepanjangan dan yang sedikit melelahkan serta butuh kesabaran ekstra...
Untuk merubah bangsa tentu berawal dari diri kita..keluarga, tetangga, kemudian masyarakat akan mengikuti kita...
hingga pada akhirnya kita melihat Indonesia menjadi lebih baik karena kita..
:)
Iya inget kok, salam kenal maksidnya dengan blognya :D
DeleteJup, tepat sekali.