Tuesday, July 3, 2012

Ini MERAH, bukan Hijau atau Kuning…



Saat ini saya berada dalam ruangan ber AC, full music, dan tentunya damai bukan karena semua fasilitas yang ada, namun kondisi ruhiyah yang begitu sejuk tempat ini bernama ‘Studio Persada’ di perkampungan heterogen Semanggi. Apa yang saya rasakan disini sungguh jauh berbeda dengan apa yang saya alami beberapa hari lalu di jalan. Panas, debu, bising suara klakson seperti berada di pelataran Afrika. Saat itu saya sedang berburu dengan waktu, menghadiri persentasi kepemudaan adalah tujuan saya, namun naas tak dapat ditampik. Emm..bukan naas sebenarnya, lebih tepatnya ujian kesabaran tak dapat dihindari.
Jam 16.00 saya putuskan untuk berangkat. Sisa-sisa jilatan matahari masih dapat saya rasakan dari aroma Sahara yang khas. Berharap tak akan terlambat, saya pastikan mengendarai motor dengan kecepatan lumayan tinggi namun tetap waspada. Pemandangan yang cukup mengejutkan ketika dihadapkan antrian kendaraan yang mengular puluhan meter. Tak ingin tertinggal berita, tanpa sengaja saya mendengar seorang pengendara menyebut-nyebut SBC (Solo Batik Carnival). Aha…ini rupanya yang jadi biang keladi. Pesta rakyat Surakarta ini bukan point utama sebenarnya, yang menjadi masalah adalah pengendara atau komsumen transportasi yang tidak sabar dengan keadaan. Saya percaya bahwa banyak dari mereka atau sebagian besar para pengendara bukanlah kaum papa dan marjinal yang tidak paham dengan navigasi dan rambu-rambu lalu lintas. Anak SD pun paham jika lampu merah berarti berhenti, kuning tana peringatan dan hijau berarti diperbolehkan untuk melaju. Bahkan rambu-rambu ini merupakan sebuah hasil konvensi yang dilaksanakan di Winna Austria pada 1968 silam. Oleh karenanya tidak ada alasan untuk tidak paham dan mengerti, yang ada hanyalah alibi tak melihat rambu-rambu khususnya dalam kasus lampu merah yang saya alami beberapa hari lalu.
Ini bukan kali pertama saya harus berjibaku dengan kemacetan, Solo yang sebentar lagi menjadi kota wisata internasional karena batiknya tentu tak dapat menghindari membengkaknya kapasitas kendaraan bermotor. Seberapa banyak kendaraan yang ada, asal kita sebagai warga Negara yang baik dapat mematuhi peraturan lalu lintas yang ada, juga kesabaran yang tinggi tentunya masalah-masalah ini dapat kita nikmati bersama dengan senyum merekah tentunya.
Atau perlukah pendidikan lalu lintas disosialisasikan di masyarakat? Agar tak ada lagi perlombaan liar saat lampu merah menyala? Agar tak ada lagi polusi suara akibat klakson yang selalu dibunyikan tanda keridaksabaran?
Semuanya ada dan nyata, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Hal terbaik yang dapat kita lalulakan adalah patuhi selalu rambu-rambu yang ada, bukan untuk orang lain namun juga untuk diri kita sendiri.

4 comments:

  1. Balik lagi kepada diri kita sendiri. Kenapa ngga kita mulai dari diri sendiri? Saya sudah sejak lama menggunakan Transjakarta dan berjalan kaki untuk mengurangi kemacetna. Memang tidak memberi dampak yang berarti, tapi laam kelamaan ayah dan kakak saya yg biasanya membawa mobil mulai menggunakan angkutan umum, teman2 sama yg baisa membawa kendaraan pribadi mulai beralih ke Transjakarta juga. Itulah perubahan, butuh proses yg sangat lama, tapi setidaknya sudah memberi sedikit harapan :)

    Terima kasih, salam kenal :)

    ReplyDelete
  2. Balik lagi kepada diri kita sendiri. Kenapa ngga kita mulai dari diri sendiri? Saya sudah sejak lama menggunakan Transjakarta dan berjalan kaki untuk mengurangi kemacetan. Memang tidak memberi dampak yang berarti, tapi laam kelamaan ayah dan kakak saya yg biasanya membawa mobil mulai menggunakan angkutan umum, teman2 sama yg baisa membawa kendaraan pribadi mulai beralih ke Transjakarta juga. Itulah perubahan, butuh proses yg sangat lama, tapi setidaknya sudah memberi sedikit harapan :)

    Terima kasih, salam kenal :)

    ReplyDelete
  3. Deni....apa kabar??
    masih ingatkaah?? dini peace camp..
    :)
    you're right Deny...
    perubahan memang proses berkepanjangan dan yang sedikit melelahkan serta butuh kesabaran ekstra...
    Untuk merubah bangsa tentu berawal dari diri kita..keluarga, tetangga, kemudian masyarakat akan mengikuti kita...
    hingga pada akhirnya kita melihat Indonesia menjadi lebih baik karena kita..
    :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya inget kok, salam kenal maksidnya dengan blognya :D

      Jup, tepat sekali.

      Delete