Mengapa seperti tak punya sesuatu yang dapat
ditumpahkan dalam beberapa aksara?
Padahal sebelumnya, saya amat bersemangat
untuk menulis.
Inspirasi itu datang dimana saja, kapan saja,
di jalanan menuju kampus, di tempat diskusi favorit (baca: angkringan), di
dalam kelas ketika mendengarkan ceramah dosen yang tak ada putusnya, di taman
kampus ketika menunggu seseorang, di parkiran kampus yang berantakan, di kantor
ormawa yang pengap, diatas bus yang membawa diri ke tanah kelahiran, dimana-mana.
Dan saat ini, detik ini, saat-saat seharusnya
saya menumpahkan apa yang saya niatkan untuk saya tulis, tapi kenapa tak ada
satupun inspirasi ynag dapat saya sampaikan lewat aksara.
Karena menulis adalah bakat, karena menulis
adalah darah yang ‘kadung’ mengalir di tubuh, karena menulis adalah pembawaan
dan bawaan, yang pada akhirnya berkesimpulan bahwa menulis adalah keturunan.
Benarkah?
Mungkin ada benarnya juga.
Tapi saya percaya, akan banyak pihak yang
menyalahkan premis di atas.
Entahlah mana benar, mana salah.
Just enjoy whatever I do, I have, and I love…
:D
No comments:
Post a Comment