“Ibuku sayang, izinkan aku, ya….?!”, pintaku lembut saat itu
Dan semburat jingga pun bertabur dalam damai…
Sedangkan penggalan-penggalannya menjelma beribu cahaya
Memercik luruh pada relung-relung yang tiba-tiba menyeruak
Menyisakkan harap yang kian bergulir,
Matamu meredup,
Peluhpun telah jatuh, beriringan…
Dan tatapmu nanar,
Sedang raut kelam berdesing keras mengeruak sepi,
Melekat gundah sedemikian erat,
“tidakkah sayapmu masih rentan, Nak?
Sedang angin di luar pun sedemikian keras bergerak,
Bahkan mentari seringnya menyengat tajam.
Dan itu membuatku galau, sungguh…!!!
Aku memeluknya,
Menyimpan lapis demi lapis cintanya yang tak terbtas,
Menitipkannya pada sinaran yang melingkar,
Hanya sesaat,
Karena dadaku sedemikian sesak,
Sedang cintanya bergulir tanpa putus…
“…insya Allah, dialah yang terbaik pilihan Allah, Ibu, untukku…
Tidakkah itu indah? Dia memang tidaklah sempurna, seperti jua aku.
Tapi itulah yang ditunjukkaNya pada tepian istikharah ku.
Laki-laki terbaik pilihan Allah, Ibu, untukku…
Sedang rasa, biarlah Allah yang akan menyempurnakannya.
Tidakkah hati ini adalah milikNya?
Dan, sepenuhnya hati ini ikhlas…pasrah…”, pekikku parau.
Helaan napas panjang, berbaur rindu,
Dan syahdu yang mengumandang, kini menjejak kuat.
Lalu ia mengusap kepalaku, menyandarkan separuh napasnya,
Dan mungkin seluruh, karena kini haru mulai bebercak.
“Sayapku mungkin masih rentan, tapi sayap kami akan saling menyangga kan,Bu?
Hingga akhirnya mampu mengepak seluas dahaga, sekuat sayap ibu kelak,
Bukankah itu yang Ibu ajarkan kepadaku?”
Akupun mengatur napas, pelan…
“Dan, bukankah Ibu jua yang memanggilnya datang?
Melalui doa-doa panjang Ibu,
Lewat sujud-sujud syahdu Ibu,
Untuk menemaniku dalam usia yang baru beranjak dewasa, menjaga diri yang lemah ini.
Diri yang hamper tersentuh lelah yang kian meraja…
Sebagai muara dari proses-proses panjang yang pernah kulalui.
Dan kini, prose situ telah menemu terminalnya. Lantas, haruskah au berbelok, sementara Allah telah menggerakannya?
Ia hadir untuk menjadi imam bagiku, tulang rusuk yang mudah bengkok.
Dan dalam perjalananya meniti langit, ia kini mengajakku serta,
Mengepakkan sayap lebih tinggi, berpendar bersama…
Bukankah ini yang Ibu adukan dulu pada Sang Pemilik Hati?
Ia telah berniat suci.”
Isak pun bersenandung…
“….dan Ibu,
Ia mencintai Allah,
Berupaya menjadi abdi Allah yang uat,
Pun usianya telah matang, seperti yang ibu ingin…
Padanya jua kerasku luluh,
Aku punya tempat bersandar dan bercita-cita, seperti rinduku yang menerjah.
Tidakkah itu sudah cukup, Bu?”
Napasnya kini berbaur haru,
Luruh sudah segala,
Maka, beribu doapun melangit,
Memenggal setiap gulita,
Melebur pupus,
Dalam rangkaian panjang bertemakan pinta dan berkawan asa,
Sepenuh keikhlasan, satu tujuan, hanya Allah saja…
Allah saja.
No comments:
Post a Comment