Friday, July 20, 2012

Biar Menjadi Perempuan Malam

Whatever apa interpretasi setiap manusia. Menjadi perempuan malam adalah sebuah pilihan yang aku pilih dan juga merupakan sebuah tugas yang aku emban. Aku sebut diriku sebagai ‘perempuan malam’ bukan ‘wanita malam’. Tentu sangat jelas perbedaan yang terbaca antara keduanya. Semoga kau mengerti.


Usiaku saat itu belumlah patut jika harus dikatakan sebagai penopang keluarga. Anak ingusan yang bermodal ijasah SD dan mencoba menjamah gemerlapnya Jakarta. Setiap bola mata yang memangdangpun akan segera memalingkan pandangannya ke pemandangan yang jauh lebih baik. Baju usang sandal japit, dan rambut yang sedikit gimbal, karena sisiran sang Ibu sudah tak dapat aku rasakan semenjak aku duduk di kelas 3 SD. Ibu tentu lebih menomor wahid kan ke lima adik-adiku. Semenjak ayah memutuskan diri untuk menjadi nelayan lepas. Hampir tidak pernah kami bertatap muka. Suatu malam ketika aku hampir terlelap, aku mendengar dernyit suara pintu reot yang dibuka Tuannya. Itu ayahku, ia mendekati putri semata wayang dan tujuh saudara lelakinya yang pulas karena menahan lapar. Ayah menutup kembali pintu reot itu dengan begitu hati-hati. Akut jika penghuninya akan terbangun karena bunyinya yang menggelisahkan setiap hati para pendengarnya. Ayah mendekat, diusapnya kepala ini dengan penuh kecintaan. Tangan kasar karena harus menarik tambang-tambang perahu setiap hari. Aku mati-matian tahan napas agar ayah mengira bahwa aku memang sudah terlelap. Malam berikutnya aku mendapati ayah melakukan hal yang sama. Aku sengaja tak melelapkan diriku, sengaja menunggu ayah membelai rambutku, sengaja mendengarkan ayah yang larut dalam doa, mendoakan kami, anak-anaknya. Hingga pada malam-malam berikutnya aku tak mendapati ayah membuka pintu kamar kami. Ayah meninggal terseret ombak dan gelombang besar beberapa hari lalu. Sejak saat itu belaian tangan Ayah sudah tak pernah lagi aku rasakan. Aku tersentak, bangun. Kudapati semuanya hanya gelap dan samar-samar temaram, kucari-cari sosok yang setiap malam membelai kepalaku, dan ternyata ia telah-benar-benar tiada, hingga saat ini tubuh ayah belum berhasil ditemukan. Itu yang membuatku terpukul, karena aku tak mengenali wajah ayah dengan baik. Gulita yang menjadi teman lelap kami tak meninggalkan sketsa wajah Ayah sedikitpun.
Setelah kepergian ayah, mau tidak mau aku harus menggantikan tugas ayah. Memutar roda perekonomian agar hiidup tetap berlanjut. Kedua kakakku bukanlah orang yang dapat kami andalkan. Tuhan dengan segala Kuasa NYA memberikan ujian NYA kepada kami, agar kami selalu bijak dalam menitih hidup. Keduanya lahir dalam rahim yang sama. Ketika berusua 11 bulan, keduanya terserang demam hebat. Ayah tak punya uang untuk membawanya kerumah puskesmas. Hanya dukun kampung yang sanggup ayah mintai bantuan agar sakit kedua putranya cepat sembuh. Memang naas tak dapat ditampik, keduanya lumpuh total.
Bekerja menjadi kuli kerang memang tak seberapa, aku menekuninya hampir selama tiga tahun, setelah kepergian Ayah. Dua orang kakak, lima adik dan seorang Ibu yang begitu aku cinta. Semuanya aku lakukan demi mereka. Ada kelelahan dan jeritan hati yang tak tertahankan. Namun kembali hatiku berbisik bahwa memang seharusnya aku bersyukur bahwa Tuhan memilihku karena aku kuat untuk menghadapi semuanya dengan bijak.
Ibupun tak ingin tinggal diam, baginya melihat anak-anaknya ikut bekerja adalah rasa bersalah. Dilakukannya pekerjaan baik apa saja yang dapat ia kerjakan. Kuli panggul ikan, bersih ikan hingga kuli pungut ikan di sekitar tempat pelelangan ikan.
Mengingat masa lalu hanya akan membuat mata semakin basah.Aku memahami betul semua kondisi yang ada dalam keluargaku. Tak ada yang dapat aku lakukan selain bertahan. Mengeluh dan putus asapun sudah barang tentu menjadi hal yang sangat sia-sia, karena memang tak dapat merubah hidupku.
Kini aku ada di tengah-tengah lalu lalang manusia kota, mobil mewah, dan ratusan gedung pencakar langit. Ini Jakarta. Lima hari dalam perjalanan membuatku lelah dan kumuh. Tak heran jika orang memicingkan mata ketika melihatku. Tak ada alamat yang dapat aku tuju. Inginku hanyalah tiba di Jakarta. Ternyata memang sama persis dengan gambar di televisi yang aku tonton satu minggu lalu di balai desa.
Seorang pemuda, tanpa dinyana mendekatiku……
*To be continued...

2 comments:

  1. din...ini cerpenn..atau realita din..?
    nice posting diin..:)

    ReplyDelete
  2. Hahahay....
    Realita mbaaa....
    tapi dibumbui fiktif juga...
    :D

    ReplyDelete