Whatever apa interpretasi setiap
manusia. Menjadi perempuan malam adalah sebuah pilihan yang aku pilih dan juga
merupakan sebuah tugas yang aku emban. Aku sebut diriku sebagai ‘perempuan
malam’ bukan ‘wanita malam’. Tentu sangat jelas perbedaan yang terbaca antara
keduanya. Semoga kau mengerti.
Usiaku saat itu belumlah patut
jika harus dikatakan sebagai penopang keluarga. Anak ingusan yang bermodal
ijasah SD dan mencoba menjamah gemerlapnya Jakarta. Setiap bola mata yang
memangdangpun akan segera memalingkan pandangannya ke pemandangan yang jauh
lebih baik. Baju usang sandal japit, dan rambut yang sedikit gimbal, karena
sisiran sang Ibu sudah tak dapat aku rasakan semenjak aku duduk di kelas 3 SD.
Ibu tentu lebih menomor wahid kan ke lima adik-adiku. Semenjak ayah memutuskan
diri untuk menjadi nelayan lepas. Hampir tidak pernah kami bertatap muka. Suatu
malam ketika aku hampir terlelap, aku mendengar dernyit suara pintu reot yang
dibuka Tuannya. Itu ayahku, ia mendekati putri semata wayang dan tujuh saudara
lelakinya yang pulas karena menahan lapar. Ayah menutup kembali pintu reot itu
dengan begitu hati-hati. Akut jika penghuninya akan terbangun karena bunyinya
yang menggelisahkan setiap hati para pendengarnya. Ayah mendekat, diusapnya
kepala ini dengan penuh kecintaan. Tangan kasar karena harus menarik
tambang-tambang perahu setiap hari. Aku mati-matian tahan napas agar ayah
mengira bahwa aku memang sudah terlelap. Malam berikutnya aku mendapati ayah
melakukan hal yang sama. Aku sengaja tak melelapkan diriku, sengaja menunggu
ayah membelai rambutku, sengaja mendengarkan ayah yang larut dalam doa,
mendoakan kami, anak-anaknya. Hingga pada malam-malam berikutnya aku tak
mendapati ayah membuka pintu kamar kami. Ayah meninggal terseret ombak dan
gelombang besar beberapa hari lalu. Sejak saat itu belaian tangan Ayah sudah
tak pernah lagi aku rasakan. Aku tersentak, bangun. Kudapati semuanya hanya
gelap dan samar-samar temaram, kucari-cari sosok yang setiap malam membelai
kepalaku, dan ternyata ia telah-benar-benar tiada, hingga saat ini tubuh ayah
belum berhasil ditemukan. Itu yang membuatku terpukul, karena aku tak mengenali
wajah ayah dengan baik. Gulita yang menjadi teman lelap kami tak meninggalkan
sketsa wajah Ayah sedikitpun.
Setelah kepergian ayah, mau tidak
mau aku harus menggantikan tugas ayah. Memutar roda perekonomian agar hiidup
tetap berlanjut. Kedua kakakku bukanlah orang yang dapat kami andalkan. Tuhan
dengan segala Kuasa NYA memberikan ujian NYA kepada kami, agar kami selalu
bijak dalam menitih hidup. Keduanya lahir dalam rahim yang sama. Ketika berusua
11 bulan, keduanya terserang demam hebat. Ayah tak punya uang untuk membawanya
kerumah puskesmas. Hanya dukun kampung yang sanggup ayah mintai bantuan agar
sakit kedua putranya cepat sembuh. Memang naas tak dapat ditampik, keduanya
lumpuh total.
Bekerja menjadi kuli kerang
memang tak seberapa, aku menekuninya hampir selama tiga tahun, setelah
kepergian Ayah. Dua orang kakak, lima adik dan seorang Ibu yang begitu aku
cinta. Semuanya aku lakukan demi mereka. Ada kelelahan dan jeritan hati yang
tak tertahankan. Namun kembali hatiku berbisik bahwa memang seharusnya aku
bersyukur bahwa Tuhan memilihku karena aku kuat untuk menghadapi semuanya
dengan bijak.
Ibupun tak ingin tinggal diam,
baginya melihat anak-anaknya ikut bekerja adalah rasa bersalah. Dilakukannya
pekerjaan baik apa saja yang dapat ia kerjakan. Kuli panggul ikan, bersih ikan
hingga kuli pungut ikan di sekitar tempat pelelangan ikan.
Mengingat masa lalu hanya akan
membuat mata semakin basah.Aku memahami betul semua kondisi yang ada dalam
keluargaku. Tak ada yang dapat aku lakukan selain bertahan. Mengeluh dan putus
asapun sudah barang tentu menjadi hal yang sangat sia-sia, karena memang tak
dapat merubah hidupku.
Kini aku ada di tengah-tengah
lalu lalang manusia kota, mobil mewah, dan ratusan gedung pencakar langit. Ini
Jakarta. Lima hari dalam perjalanan membuatku lelah dan kumuh. Tak heran jika
orang memicingkan mata ketika melihatku. Tak ada alamat yang dapat aku tuju.
Inginku hanyalah tiba di Jakarta. Ternyata memang sama persis dengan gambar di
televisi yang aku tonton satu minggu lalu di balai desa.
Seorang pemuda, tanpa dinyana
mendekatiku……
*To be continued...

din...ini cerpenn..atau realita din..?
ReplyDeletenice posting diin..:)
Hahahay....
ReplyDeleteRealita mbaaa....
tapi dibumbui fiktif juga...
:D