Sudah dua kali ini sejak 2011, kedatangan
saya ke Pare tidak hanya untuk mencari ilmu saja. Ada hal yang menarik yang
saya alami dua tahun terakhir ini.
Apa yang saya lakukan ini sedikit banyak
berhubungan dengan kegemaran saya. Bertemu dengan wajah-wajah baru, berkenalan,
dan memberikan manfaat pada orang lain.
Tidak ada bayangan sama sekali untuk menjadi officer amatir di salah
satu lembaga bahasa di Pare.
Saya menyebut diri saya sebagai officer
amatir, karena memang it’s just
about the volunteerism.
Jika kalian bertanya bagaimana perasaan saya
menjadi seorang officer amatir?
It was nice,
for real. Apa lagi jika masa liburan anak
kuliahan tiba. Pare layaknya sebuah gula yang dikerumuni semut-semut. Ngobrol
basa-basi dengan mereka (sekedar membuka wawasan dan wacana mereka) adalah
kegemaran lama. Mengenal mahasiswa hampir di seluruh Indonesia, tak perlu
mengikuti event-event besar sekaliber youth conference, karena di Pare pun I’ll find them.
Menjadi officer amatir juga banyak membantu
saya bagaimana mengahadapi orang dengan background
of knowledge yang berbeda. Ini yang sebenarnya menjadi point penting ketika menjadi seorang officer.
Adakah sesuatu yang membuat sedih selama
menjadi officer amatir?
Tentu ada, dimanapun , menjadi apapun, suka
duka adalah keniscayaan. Kalo suka terus sama artinya jika dunia hanya memiliki
siang tanpa adanya malam.
Sedih sekali ketika ada seorang mahasiswa
atau siapapun (customer) datang. Tidak, bukan, bukan ini yang membuat
saya sedih sebenarnya. Pertanyaan merekalah yang banyak membuat saya merasa
bahwa ‘pendidikan yang selama ini kita jalani masih belum dapat mengubah
mindset masyarakat’.
‘mba, kalau kursus disini dapat sertifikat
gag ya mba?’ tanyanya.
“o.tentu mba, setiap lembaga pendidikan di
Pare selalu memberikan sertifikat bagi yang lulus”. Senyum J
‘o gitu…trus ini yang program TOEFL
sertifikatnya gimana ya mba?’
“gimana, gimana mba maksudnya?” masih juga
senyum J
‘ya..nanti ditulisnya kayak gimana?’
“emm..mba jauh-jauh ke Pare mau pinter atau
sertifikat mba? Heheh Emang sertifikatnya buat apa mba?” masih bertahan untuk
tetap tersenyum J
‘hehe…buat daftar PNS sama nyari kerja mba’
“hehe…waaah…kalo berharap sertifikat yang dimaksud,
kami tidak menyediakan mba. Setahu saya Pare ini tempat orang belajar mba, bukan
tempat para kolektor sertifikat, jadi mohon maaf” udah mulai sedikit ketus
(hahah)
‘o..gitu ya mba…baik mba, saya permisi dulu,
terima kasih’
“oke..silahkan mba..” tersenyum lega J
Ilustrasi di atas semoga dapat membuka
pikiran kita menjadikan mengerti kemana arah mana sebenarnya kita akan
berdiskusi. Sekedar informasi saja, tahun 2012 ini rata-rata setiap lembaga
kursusan bahasa Inggris yang membuka program TOEFL mematok harga 100-200 ribu
rupiah per 2 minggu dengan pertemuan 3 kali setiap harinya dengan hari libur
pada sabtu dan minggu. Belum lagi jika kondisi peserta didik tidak memungkinkan
untuk menerima materi dengan baik, maka kelas tambahanpun akan diberikan dengan
cuma-cuma. Total, para peserta kelas TOEFL akan mendapatkan 30 kali pertemuan bahkan lebih dengan harga 100-200
ribu rupiah. Dan setelahnya, untuk peserta yang dapat melampaui passing grade yang telah ditentukan, akan
ada sertifikat sebagai ucapan selamat atas kerja keras yang telah dilakukan. What a cheap course ever!!!
Sejenak melihat lembaga pendidikan bahasa di
sekitar kita. kita baru dapat menikuti pelatihan bahasa atau TOEFL course dengan mengocek kantong yang tentunya
lebih dalam. Biaya untuk sekali mengikuti TOEFL test dengan standar ITP saja
baru dapat kita ikuti dengan minimal $25 atau Rp250.000 (dengan konversi $1
sama dengan Ro10.000). ini HANYA tesnya saja, belum lagi biaya kursus dan
administrasi lainnya. Jadi, sudah sangat jelas perbedaan yang terlihat jika
dikomparasikan dengan biaya TOEFL course di
Pare.
Kok yo
bisa-bisanya mengharapkan sertifikat setara ITP di Pare dengan separasi biaya
yang jauh?
Mungkin memang baru pertama berkunjung ke
Pare, ini khusnudzon saya. Namun di luar segala pikiran jelek. Kejadian yang
tidak hanya sekali dua kali saya temui dalam sehari memang pantas untuk kembali
saya (kita) renungkan.
Jujur, bukan bermaksud untuk menyombongkan
diri. Lebih dari belasan sertifikat yang saya dapatkan dari Pare, tidak pernah
saya merasa bangga karenanya. Beberapa sertifikat kelulusan yang seharusnya
saya dapatkan pun belum saya ambil. Legalisasi dan bukti fisik memang penting.
Namun bagi saya, yang fisik juga tidak selamanya penting dan tidak jauh lebih
penting jika kita bandingkan dengan esensi dari proses pembelajaran. Pun dalam
beberapa seminar, training, dan
perlombaan yang pernah saya ikuti. Sudah beberapa kali saya tidak mendapatkan
apa yang menjadi hak saya sebagai peserta. It
doesn’t matter for me in a real, coz I love doing it. J
Yang instan memang lebih menggiurkan, namun
tidak selamanya yang menggiurkan dapat memberikan manfaat untuk kita. Berpijak dari
premis di atas, belajar menghargai proses memang seharusnya sudah kita terapkan
dalam diri kita masing-masing. tidak melulu ‘memakukan’ diri pada hasil dan
bonus.
Mengadopsi analogi dari teman saya. Seorang
anak kecil yang dijanjikan mendapatkan sebuah hadiah jika dia lulus dan
mendapatkan nilai terbaik dalam ujian. maka akan ada dua hal yang mengikuti.
Yang pertama, hadiah akan menjadi motivasi si anak untuk mendapatkan nilai
terbaik, atau justru yang kedua yakni si anak hanya akan memikirkan hadiah yang
dijanjikan over and over, dan
menjadikannya lupa kepada apa yang seharusnya ia lakukan agar mendapatkan
hadiah tersebut. Padahal tanpa memikirkan hadiahpun, dan dengan belajar yang
tekun si anak akan mendapatkan hadiah tersebut. Karena pada dasarnya, hadiah
dan bonus akan berhubungan lurus dengan usaha yang kita berikan. Pun jika kita menanam padi, maka dengan
sendirinya rumput akan tumbuh. Namu padi
tidak akan pernah tumbuh jika kita hanya menanam rumput.
Belajar menghargai proses, biarpun sistem
yang kita anut memaksa kita untuk lebih memilih hasil dari pada berlelah dalam berproses.
Akan ada banyak hal yang kita dapatkan jika kita bersabar dalam bermetamorfosis.
Karena proses itu mendewasakan.
Dan yang terakhir, untuk kalian yang belum dan
merencanakan untuk singgah di Kampung Inggris ini, luruskan niat, enjoy the learning and living process and
you will get what you want. J
Walah miss, Tak kirain isinya ttg apa gtu miss cz judulnya dlm bgt ^^a
ReplyDeleteOh ini ya yg miss bilg nti mau posting di web ( swkt kls pronun ..mav ya miss baru bisa buka cz q cari2 g conect2 ntu =.=a
Siib.Siib..Like This miss :D