Tuesday, August 14, 2012

Bahagia Memberi, Bahagia Berbagi…

Hari itu saya sengaja mengajak seseorang untuk menemani saya makan siang. Bukan, mungkin lebih tepatnya makan sore, karena jam sudah melewati pukul 15.00. Ini sering sekali saya lakukan ketika saya merasakan kebosanan, bercerita, sharing atau diskusi sambil menikmati hidangan adalah salah satu cara menghilangkan kemalasan dan kebosanan.
Adalah minggu-minggu perjuangan, bagaimana saya mempertaruhkan integritas saya sebagai mahasiswa. ‘mencontek’ adalah hal yang akan membuat saya malu, bukan hanya kepada teman-teman dan orangtua saya, namun juga pada anak cucu saya (Aiiih…pikiranyaaa….hahah)
Sangat wajar, jika saya merasa lelah dan menginginkan untuk tidak melakukan apa-apa dan untuk tidak berfikir yang terlalu berat –baca: ingin refreshing :)
Kali ini saya membiarkan teman saya yang banyak berkata-kata dan bercerita, dan giliran saya yang harus banyak mendengarkan, menjadi pendengar yang baik.
Ia mengawali ceritanya dengan sedikit mengeluh, mengomentari keadaan teman-teman kelasnya yang banyak merepotkan dirinya. Yang datang kepadanya hanya ketika membutuhkan bantuanya, tak hanya sekali dua kali, dan tak juga seorang dua orang. Seperti tak ingin berusaha dan selalu mengandalkan orang lain. “mau jadi apa nantinya kalo selalu mengandalkan orang lain?” begitu tuturnya di akhir cerita.
Saya hanya tersenyum, mengamini setiap kata yang ia tuturkan. Sembari menyeruput es teh yang beberapa menit lalu saya pesan. Sejenak mengela napas panjang. Ingin menanggapi, namun lidah ini sudah terlalu lama kelu, hari itu saya benar-benar lelah dengan rutinitas kampus yang sedikit banyak memaksa saya agar tetap memiliki eksistensi ketika mereka meminta saya untuk ada.
Sekali lagi saya hanya tersenyum. Namun akhirnya saya pun angkat bicara, memecah sunyi dan memberikan apresiasi padanya atas apa yang ia ceritakan. Sejenak saya berkontemplasi dan berkonklusi, ada tiga hal yang saya coba untuk menjabarkannya.
Pertama, tentang sebuah pameo jawa “gayung moro timbo, nak butuh yo moro” saya rasa sesuatu yang sangat alami ketika seseorang membutuhkan kita, kemudian mereka datang kepada kita. Ilustrasinya seperti kita berkenalan dengan orang baru, kemudian terjalin hubuungan yang dekat, dan harus berpisah, tak ada komunikasi setelahnya, dan sekali ia menghubungi kita, tak lain untuk meminta bantuan kita. Beberapa dari kita mungkin akan sedikit nggrundel “nak butuh tok moro ne!!!”
Saya, secara pribadi pun sedikit tidak enak hati jika saya hanya datang ketika saya membutuhkan batuan seseorang. Menjalin dan menyambung tali silaturrahim tidak seharusnya kita lupakan. Sesekali ‘berbasa-basi’ menanyakan kabar teman-teman melalui pesan singkat, timeline posting on FB, atau cara lain yang dapat kita manfaatkan memang harus kita agendakan.
Diluar apa yang saya katakan –di paragraf atas-. Ada sebuah kebahagiaan ketika saya masih diingat orang lain, dimintai bantuan oleh orang lain, arti lain dari semua itu adalah ada kebermanfaatan yang dapat saya berikan untuk mereka, dan saya secara tidak langsung berkontribusi dalam kesuksesan mereka. “Bahagia itu ketika memberikan apa yang kita punya kepada orang lain”, klise namun benar adanya.
Kedua,tentang sebuah esensi hidup. Bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Hadits ini, sudah terlalu sering kita baca dan mendengarnya. Saya, sejujurnya bukan tipe orang yang suka berbaur membicarakan sesuatu yang sering kali kurang memberikan saya manfaat –fashion, style, film, song, atau membicarakan penampilan orang yang melintas di depan saya-. Hampir bisa dihitung jari berapa kali saya berkumpul dengan teman-teman kampus saya purna jam perkuliahan selama satu semester. Saya lebih memilih untuk segera meninggalkan kampus dan menuju asrama atau tempat mana saja yang dapat mengakomodasi kepentingan saya –baca: perpustakaan atau kantor ormawa- jika tidak ada hal ‘penting dan bermanfaat’ –bukan berarti saya mengunderestimate kebiasaan yang teman-teman saya lakukan- karena memang ukuran prioritas kepentingan setiap individu berbeda. Hal ini tidak memberikan arti bahwa saya tidak memiliki hubungan baik dengan teman-teman saya. Walaupun dapat dikatakan dengan hiperbola jika jarak saya dengan teman-teman saya paling jauh dibandingkan dengan teman-teman lainnya.
Ada hal lain yang membuat saya bersuka cita, ketika membaca pesan singkat yang pada intinya mereka menginginkan keberadaan saya untuk melakukan sesuatu. Mereka masih menganggap saya ada, itu yang dapat saya tangkap. No matter, seldom do I join them. Bukan masalah yang krusial jika saya jarang menghabiskan waktu saya dengan mereka. Karena saya akan ada ketika mereka menginginkan sesuatu dari saya. Tak ada sentimental yang membuat saya enggan untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Beranggapan bahwa mereka datang ketika membutuhkan saya adalah kesalahan. Karena hakikatnya, adalah sama ketika mereka yang datang membutuhkan kita dan kita yang membutuhkan mereka. Mereka membutukhan kita untuk melakukan sesuatu, dan kita membutuhkan mereka sebagai objek –baca: partner- kita untuk memberikan dan mengimplementasikan apa yang kita punya. Bahkan saya percaya bahwa ini adalah peran dan kontribusi saya untuk mereka. Karena memang “Bahagia itu ketika memberikan apa yang kita punya kepada orang lain”, klise namun benar adanya.
Ketiga, “mau jadi apa nantinya kalo selalu mengandalkan orang lain?”. Itu yang terkadang membuat saya berfikir. “mau jadi apa nantinya kalo selalu mengandalkan orang lain?” alih-alih memberi apa yang kita punya, justru saya yang ikut andil dalam kegagalan mereka di masa depan. Simalakama. Tunggu dulu, sebelum mengambil statemen ini, tentu saja hal ini dapat kita siasati. Contoh mudah ketika menghadapi teman kelas yang mengalami kesulitan dalam menerima materi. Kita dapat membantunya secara penuh untuk pertama kalinya, kemudian secara perlahan kita melepaskan ia dalam pemecahan masalah yang sama agar dengan sendirinya mereka dapat menemukan problem solving untuk setiap masalahnya. Tugas kita adalah mengamati dan mengevaluasi. Memeberikan seseorang seokor ikan, maka ia hanya dapat makan satu hari, tetapi memberikan seseorang bagaimana cara memancing, ia akan makan lebih dari saru hari.
Memberi dan membagi apa yang kita miliki kepada orang lain adalah kebutuhan. Bukankah perumpamaan air yang menggenang akan menjadi keruh tanpa manfaat sedang air yang mengalir ia akan memberikan manfaat adalah benar adanya? Berbahagialah ketika masih ada orang yang membutuhkan kita, meminta sesuatu dari kita. “Bahagia itu ketika memberikan apa yang kita punya kepada orang lain”, klise namun benar adanya.
Hingga pada akhirnya perbincangan saya dan teman saya berada pada sebuah kesimpulan bahwa bahagia memberi, bahagia berbagi. Karena memang “Bahagia itu ketika memberikan apa yang kita punya kepada orang lain”, klise namun benar adanya.


No comments:

Post a Comment