Bukan
berarti tidak ada alasan jika saya lebih memilih ular bermesin ini menjadi
tunggangan favorit saya.
Apa
lagi kelas ekonomi. Mahasiswa ‘kere’ yang hanya mengandalkan rekening bulanan
tentu bukan alasan utama yang mendominasi. Ada banyak hal-hal menarik yang
tidak saya dapatkan jika saya menggunakan kereta beratribut bisnis atau
eksekutif. Dan tentu akan ada banyak cerita jika menggunakan kendaraan yang
satu ini.
Alasan
lain adalah sikap dingin, angkuh dan arogan yang merupakan hal paling saya
hindari dan tak akan pernah saya temui
di atas kereta ekonomi.
Pedagang
asongan, sesuatu yang tidak dapat terlepas dari tiap gerbong yang melaju di
atas lintasan besi. Juga keberadaan penumpang yang akan sangat berpengaruh.
ketiganya tidak dapat ditarik secara linier maupun parsial. Entah simbiosis
mana yang paling banyak berpengaruh dan menjadikan kehidupan di atas gerbong
menjadi sinergis.
Jika
berada di atas gerbong pada siang hari di musim kemarau, seseorang akan
meneriakkan yel-yel ‘pemadam kehausan’. Jika pagi dan sore tetap berada di
dalam perut kereta, pahlawan yang kami sebut dengan pedagang asongan akan
dengan gigih meneriakkan apa saja yang ia bawa. Menyiarkan kepada khayalak. Pun
jika dini hari masih berada dalam dinginnya gerbong yang kian mengular panjang,
mereka, para asongan masih tetap setia dengan meneriakkan yel-yel mereka.
“Lontong…lontong…tahu
asiiin…..” yel-yel ala Pekalongan dan sekitarnya.
“Wingko…Wingko…”
yang satu ini tentu khas Semarang.
“Lantiiing…lantiiing…”
teriakan asongan khas Purwokerto.
“Breem…breem…”
agaknya memang mirip dengan suara motor gede yang sedang dipanaskan, namun
sebenarnya itulah semangat para asongan Madiun.
Masih
banyak yel-yel teriakan para asongan yang mereka gunakan untuk menjadikan
dagangannya laku, anak istri tak lapar melulu, dan akhirnya senyum selalu.
Melaju
dengan kecepatan sedang, bising sana-sini, ramai, terkesan kumuh dan kacau,
tidak pernah mengurangi ketertarikan
saya untuk menguunakan transportasi umum yang satu ini. Teman berbagi, belajar
bagaimana mengajari hidup.
Suatu
ketika takdir mempertemukan saya dengan sepasang suami-istri, damai menghiasi
wajah keduanya, biar sandang yang mereka kenakan jauh dari kata pantas pakai.
Saya belajar tentang kesederhanaan seorang bapak yang rela tak pernah membeli
baju baru. Bukan karena tak mampu, namun dalam rangka berikhtiar, agar dapat memenuhi apa-apa saja yang diinginkan sang
anak di tanah rantau.
Belajar
bagaimana seorang perempuan lugu yang tak pernah membeli gincu. Bukan karena
tak ingin. Nalurinya sebagai perempuan pasti sangat menginginkan polesan pada
wajahnya. Namun, lagi-lagi ia akan merasa malu, jika dapat membeli sesuatu yang
ia inginkan, tapi tak dapat memberi apa-apa yang diinginkan anaknya di tanah
rantau.
Ular
bermesin yang aku naiki masih melaju, kali ini lajunya mulai melambat,
melambat, dan berhenti. Kau pasti tahu kawan kenapa kereta ini berhenti di
tengah perjalanan. Yah, kereta ini rela menunggu dan mempersilahkan kereta
dengan kelas parlente untuk mendahului melaju. Dari sini saya sejenak merenung
bahwa hukum rimba memang nyata adanya. Yang berpunya dan berpangkat lebih dinomorwahidkan. Namun sekali lagi, ini
tak mengurangi kesukaan saya untuk menggunakan transportasi ini. Karena
mengalah itu indah.
Sekarang
ular bermesin ini sedang bersiap untuk melaju. Para penghuninya turut bersuka
cita. Masih dengan suaranya yang khas, suara besi yang bergesekan dan membuat
hati terasa ngilu. Tak berapa lama, kereta kami melambat dan berhenti. Kali ini
bukan karena kami harus mengalah, melainkan telah sampai di stasiun, bukan
stasiun tujuan untuk saya, melainkan untuk pemilik dua pasang mata yang duduk
tepat di depan saya. Acara pamitan pun tak tertinggal di dalam gerbong yang
saya naiki. Berharap entah kapan waktunya dapat bertemu dalam kondisi yang jauh
lebih baik.
Saya
biasanya menyempatkan diri untuk melihat pemandangan di arah stasiun, sekedar
menghilangkan penat dan mencari apa saja yang bisa dijadikan sebagai inspirasi.
Sementara itu, moment singgahnya
kereta ini dijadikan oleh para asongan sebagai berkah untuk mengais rupiah. Bukan
perempuan atau lelaki paru baya, banyak anak-anak dan remaja yang ternyata
terpikat menjadi asongan. Kondisilah yang memaksa mereka untuk menjadi apa yang
sebenarnya tidak mereka inginkan.
“Dek,
airnya beli”
“Yang
mana mba?” sumringah.
“Yang
ini aja” sembari menunjuk sebotol minuman yang dijejer dalam keranjang kecil.
“Yang
ini lima ribu mba”
“ini
nih, gag sekolah dek?” Tanya saya.
“Udah
mba tadi, ini udah pulang” sambil mencari uang kembalian.
“Kelas
berapa?”
“Kelas
7 mba” jawabnya singkat.
“Owalah..udah
SMP ya..heemz…Bapak Ibu kemana dek?” sedikit menyelidik.
“Bapak
di rumah, sakit. Kalo ibu jualan mba”
Sirine
dari sound system stasiun memaksa
saya harus berhenti bertanya, kami harus segera berpisah. Anak asongan yang
tadi saya tanya pun bergegas merapikan rupiahnya dan turun dari tubuh kereta.
Saya
jadi ingat masa kecil saya. Dari ketiga orang anak dalam keluarga, saya lah yang
paling nyleneh di keluarga. Sejak SD
saya Sudah ikut para perempuan di daerah tempat saya tinggal, saat liburan, moment paling menyenangkan untuk pergi
ke sawah. Awalnya iseng dan ikut-ikutan mengais rupiah di ladang milik orang.
Mengais butir demi butir bawang merah yang tidak sengaja tertinggal para pemanen.
Selesai memanen, biasanya tetangga kami yang punya ladang akan membutuhkan
‘kuli’ untuk mrotol (memisahkan daun
bawang dan akar dari bawangnya, tahap awal setelah memanen sebelum menjual
bawang itu ke Cibitung, Jakarta, atau kota lain). Tetangga yang baru melihat
saya, akan menunjukkan mimik muka heran mengisyaratkan
kok bias? Selesai melakukan itu
semua, uang hasil kerja seharian biasanya saya tunjukkan ke ibu. Ibu tak pernah
marah jika saya mencari uang jajan
tambahan sendiri. Namun tidak marah bukan berarti tidak melarang. Keduanya (Ayah
dan Ibu) melarang saya untuk melakukan itu semua. “BELAJAR, PERSIAPAN PELAJARAN
BESOK, PR” selalu menjadi alasan yang sangat membosankan. Dan pada intinya,
masa sekolah hanyalah untuk belajar, bukan menanggung beban hidup atau biaya
sekolah.
Saya
tertunduk, khidmat dalam syukur. Tak perlu menjadi asongan untuk bisa memamah
sesuap nasi, tak perlu berlelah-lelah sepulang sekolah untuk melunasi biaya
sekolah. Orang tua saya (Alhamdulillah) masih mampu untuk memenuhi kebutuhan
saya. Saya tidak perlu untuk melakukan apa yang anak asongan tadi lakukan. Dan
saya harus banyak mensyukuri apa yang saya miliki dan peroleh hingga saat ini.
Heeemz,
kembali lagi pada apa yang kita bahas sebelumnya, coba bayangkan, saya tidak
akan pernah dapat menjumpai memandangan ini jika saya menggunakan kereta
berlabel eksekutif maupun bisnis.
Guys,
pembelajaran dan pendewasakan diri tidak harus dengan sesuatu yang wah dan
mewah. Bahkan dalam kelas termarjinalkan pun kita masih dapat belajar, belajar
tentang hidup. Semua tergantung pada siapa yang menjalani hidup. So, let’s
learn and move…J
No comments:
Post a Comment