Thursday, August 16, 2012

Belajar dari Kelas 'Termarjinalkan'...


Bukan berarti tidak ada alasan jika saya lebih memilih ular bermesin ini menjadi tunggangan favorit saya.
Apa lagi kelas ekonomi. Mahasiswa ‘kere’ yang hanya mengandalkan rekening bulanan tentu bukan alasan utama yang mendominasi. Ada banyak hal-hal menarik yang tidak saya dapatkan jika saya menggunakan kereta beratribut bisnis atau eksekutif. Dan tentu akan ada banyak cerita jika menggunakan kendaraan yang satu ini.
Alasan lain adalah sikap dingin, angkuh dan arogan yang merupakan hal paling saya hindari dan tak akan pernah saya temui  di atas kereta ekonomi.
Pedagang asongan, sesuatu yang tidak dapat terlepas dari tiap gerbong yang melaju di atas lintasan besi. Juga keberadaan penumpang yang akan sangat berpengaruh. ketiganya tidak dapat ditarik secara linier maupun parsial. Entah simbiosis mana yang paling banyak berpengaruh dan menjadikan kehidupan di atas gerbong menjadi sinergis.
Jika berada di atas gerbong pada siang hari di musim kemarau, seseorang akan meneriakkan yel-yel ‘pemadam kehausan’. Jika pagi dan sore tetap berada di dalam perut kereta, pahlawan yang kami sebut dengan pedagang asongan akan dengan gigih meneriakkan apa saja yang ia bawa. Menyiarkan kepada khayalak. Pun jika dini hari masih berada dalam dinginnya gerbong yang kian mengular panjang, mereka, para asongan masih tetap setia dengan meneriakkan yel-yel mereka.
“Lontong…lontong…tahu asiiin…..” yel-yel ala Pekalongan dan sekitarnya.
“Wingko…Wingko…” yang satu ini tentu khas Semarang.
“Lantiiing…lantiiing…” teriakan asongan khas Purwokerto.
“Breem…breem…” agaknya memang mirip dengan suara motor gede yang sedang dipanaskan, namun sebenarnya itulah semangat para asongan Madiun.
Masih banyak yel-yel teriakan para asongan yang mereka gunakan untuk menjadikan dagangannya laku, anak istri tak lapar melulu, dan akhirnya senyum selalu.
Melaju dengan kecepatan sedang, bising sana-sini, ramai, terkesan kumuh dan kacau, tidak pernah mengurangi  ketertarikan saya untuk menguunakan transportasi umum yang satu ini. Teman berbagi, belajar bagaimana mengajari hidup.
Suatu ketika takdir mempertemukan saya dengan sepasang suami-istri, damai menghiasi wajah keduanya, biar sandang yang mereka kenakan jauh dari kata pantas pakai. Saya belajar tentang kesederhanaan seorang bapak yang rela tak pernah membeli baju baru. Bukan karena tak mampu, namun dalam rangka berikhtiar, agar dapat memenuhi apa-apa saja yang diinginkan sang anak di tanah rantau.
Belajar bagaimana seorang perempuan lugu yang tak pernah membeli gincu. Bukan karena tak ingin. Nalurinya sebagai perempuan pasti sangat menginginkan polesan pada wajahnya. Namun, lagi-lagi ia akan merasa malu, jika dapat membeli sesuatu yang ia inginkan, tapi tak dapat memberi apa-apa yang diinginkan anaknya di tanah rantau.
Ular bermesin yang aku naiki masih melaju, kali ini lajunya mulai melambat, melambat, dan berhenti. Kau pasti tahu kawan kenapa kereta ini berhenti di tengah perjalanan. Yah, kereta ini rela menunggu dan mempersilahkan kereta dengan kelas parlente untuk mendahului melaju. Dari sini saya sejenak merenung bahwa hukum rimba memang nyata adanya. Yang berpunya dan berpangkat lebih dinomorwahidkan. Namun sekali lagi, ini tak mengurangi kesukaan saya untuk menggunakan transportasi ini. Karena mengalah itu indah.
Sekarang ular bermesin ini sedang bersiap untuk melaju. Para penghuninya turut bersuka cita. Masih dengan suaranya yang khas, suara besi yang bergesekan dan membuat hati terasa ngilu. Tak berapa lama, kereta kami melambat dan berhenti. Kali ini bukan karena kami harus mengalah, melainkan telah sampai di stasiun, bukan stasiun tujuan untuk saya, melainkan untuk pemilik dua pasang mata yang duduk tepat di depan saya. Acara pamitan pun tak tertinggal di dalam gerbong yang saya naiki. Berharap entah kapan waktunya dapat bertemu dalam kondisi yang jauh lebih baik.
Saya biasanya menyempatkan diri untuk melihat pemandangan di arah stasiun, sekedar menghilangkan penat dan mencari apa saja yang bisa dijadikan sebagai inspirasi. Sementara itu, moment singgahnya kereta ini dijadikan oleh para asongan sebagai berkah untuk mengais rupiah. Bukan perempuan atau lelaki paru baya, banyak anak-anak dan remaja yang ternyata terpikat menjadi asongan. Kondisilah yang memaksa mereka untuk menjadi apa yang sebenarnya tidak mereka inginkan.
“Dek, airnya beli”
“Yang mana mba?” sumringah.
“Yang ini aja” sembari menunjuk sebotol minuman yang dijejer dalam keranjang kecil.
“Yang ini lima ribu mba”
“ini nih, gag sekolah dek?” Tanya saya.
“Udah mba tadi, ini udah pulang” sambil mencari uang kembalian.
“Kelas berapa?”
“Kelas 7 mba” jawabnya singkat.
“Owalah..udah SMP ya..heemz…Bapak Ibu kemana dek?” sedikit menyelidik.
“Bapak di rumah, sakit. Kalo ibu jualan mba”
Sirine dari sound system stasiun memaksa saya harus berhenti bertanya, kami harus segera berpisah. Anak asongan yang tadi saya tanya pun bergegas merapikan rupiahnya dan turun dari tubuh kereta.
Saya jadi ingat masa kecil saya. Dari ketiga orang anak dalam keluarga, saya lah yang paling nyleneh di keluarga. Sejak SD saya Sudah ikut para perempuan di daerah tempat saya tinggal, saat liburan, moment paling menyenangkan untuk pergi ke sawah. Awalnya iseng dan ikut-ikutan mengais rupiah di ladang milik orang. Mengais butir demi butir bawang merah yang tidak sengaja tertinggal para pemanen. Selesai memanen, biasanya tetangga kami yang punya ladang akan membutuhkan ‘kuli’ untuk mrotol (memisahkan daun bawang dan akar dari bawangnya, tahap awal setelah memanen sebelum menjual bawang itu ke Cibitung, Jakarta, atau kota lain). Tetangga yang baru melihat saya, akan menunjukkan mimik muka heran mengisyaratkan kok bias? Selesai melakukan itu semua, uang hasil kerja seharian biasanya saya tunjukkan ke ibu. Ibu tak pernah marah jika saya mencari uang jajan tambahan sendiri. Namun tidak marah bukan berarti tidak melarang. Keduanya (Ayah dan Ibu) melarang saya untuk melakukan itu semua. “BELAJAR, PERSIAPAN PELAJARAN BESOK, PR” selalu menjadi alasan yang sangat membosankan. Dan pada intinya, masa sekolah hanyalah untuk belajar, bukan menanggung beban hidup atau biaya sekolah.
Saya tertunduk, khidmat dalam syukur. Tak perlu menjadi asongan untuk bisa memamah sesuap nasi, tak perlu berlelah-lelah sepulang sekolah untuk melunasi biaya sekolah. Orang tua saya (Alhamdulillah) masih mampu untuk memenuhi kebutuhan saya. Saya tidak perlu untuk melakukan apa yang anak asongan tadi lakukan. Dan saya harus banyak mensyukuri apa yang saya miliki dan peroleh hingga saat ini.
Heeemz, kembali lagi pada apa yang kita bahas sebelumnya, coba bayangkan, saya tidak akan pernah dapat menjumpai memandangan ini jika saya menggunakan kereta berlabel eksekutif maupun bisnis.
Guys, pembelajaran dan pendewasakan diri tidak harus dengan sesuatu yang wah dan mewah. Bahkan dalam kelas termarjinalkan pun kita masih dapat belajar, belajar tentang hidup. Semua tergantung pada siapa yang menjalani hidup. So, let’s learn and move…J


No comments:

Post a Comment