Monday, July 30, 2012

Karena Proses itu Mendewasakan...

Sudah dua kali ini sejak 2011, kedatangan saya ke Pare tidak hanya untuk mencari ilmu saja. Ada hal yang menarik yang saya alami dua tahun terakhir ini.
Apa yang saya lakukan ini sedikit banyak berhubungan dengan kegemaran saya. Bertemu dengan wajah-wajah baru, berkenalan, dan memberikan manfaat  pada orang lain. Tidak ada bayangan sama sekali untuk menjadi officer amatir di salah satu lembaga bahasa di Pare.
Saya menyebut diri saya sebagai officer amatir, karena memang it’s just about the volunteerism.
Jika kalian bertanya bagaimana perasaan saya menjadi seorang officer amatir?
It was nice, for real. Apa lagi jika masa liburan anak kuliahan tiba. Pare layaknya sebuah gula yang dikerumuni semut-semut. Ngobrol basa-basi dengan mereka (sekedar membuka wawasan dan wacana mereka) adalah kegemaran lama. Mengenal mahasiswa hampir di seluruh Indonesia, tak perlu mengikuti event-event besar sekaliber youth conference, karena di Pare pun I’ll find them.
Menjadi officer amatir juga banyak membantu saya bagaimana mengahadapi orang dengan background of knowledge yang berbeda. Ini yang sebenarnya menjadi point penting ketika menjadi seorang officer.
Adakah sesuatu yang membuat sedih selama menjadi officer amatir?
Tentu ada, dimanapun , menjadi apapun, suka duka adalah keniscayaan. Kalo suka terus sama artinya jika dunia hanya memiliki siang tanpa adanya malam.
Sedih sekali ketika ada seorang mahasiswa atau siapapun (customer) datang. Tidak, bukan, bukan ini yang membuat saya sedih sebenarnya. Pertanyaan merekalah yang banyak membuat saya merasa bahwa ‘pendidikan yang selama ini kita jalani masih belum dapat mengubah mindset masyarakat’.
‘mba, kalau kursus disini dapat sertifikat gag ya mba?’ tanyanya.
“o.tentu mba, setiap lembaga pendidikan di Pare selalu memberikan sertifikat bagi yang lulus”. Senyum J
‘o gitu…trus ini yang program TOEFL sertifikatnya gimana ya mba?’
“gimana, gimana mba maksudnya?” masih juga senyum J
‘ya..nanti ditulisnya kayak gimana?’
“emm..mba jauh-jauh ke Pare mau pinter atau sertifikat mba? Heheh Emang sertifikatnya buat apa mba?” masih bertahan untuk tetap tersenyum J
‘hehe…buat daftar PNS sama nyari kerja mba’
“hehe…waaah…kalo berharap sertifikat yang dimaksud, kami tidak menyediakan mba. Setahu saya Pare ini tempat orang belajar mba, bukan tempat para kolektor sertifikat, jadi mohon maaf” udah mulai sedikit ketus (hahah)
‘o..gitu ya mba…baik mba, saya permisi dulu, terima kasih’
“oke..silahkan mba..” tersenyum lega J
Ilustrasi di atas semoga dapat membuka pikiran kita menjadikan mengerti kemana arah mana sebenarnya kita akan berdiskusi. Sekedar informasi saja, tahun 2012 ini rata-rata setiap lembaga kursusan bahasa Inggris yang membuka program TOEFL mematok harga 100-200 ribu rupiah per 2 minggu dengan pertemuan 3 kali setiap harinya dengan hari libur pada sabtu dan minggu. Belum lagi jika kondisi peserta didik tidak memungkinkan untuk menerima materi dengan baik, maka kelas tambahanpun akan diberikan dengan cuma-cuma. Total, para peserta kelas TOEFL akan mendapatkan 30 kali  pertemuan bahkan lebih dengan harga 100-200 ribu rupiah. Dan setelahnya, untuk peserta yang dapat melampaui passing grade yang telah ditentukan, akan ada sertifikat sebagai ucapan selamat atas kerja keras yang telah dilakukan. What a cheap course ever!!!
Sejenak melihat lembaga pendidikan bahasa di sekitar kita. kita baru dapat menikuti pelatihan bahasa atau TOEFL course dengan mengocek kantong yang tentunya lebih dalam. Biaya untuk sekali mengikuti TOEFL test dengan standar ITP saja baru dapat kita ikuti dengan minimal $25 atau Rp250.000 (dengan konversi $1 sama dengan Ro10.000). ini HANYA tesnya saja, belum lagi biaya kursus dan administrasi lainnya. Jadi, sudah sangat jelas perbedaan yang terlihat jika dikomparasikan dengan biaya TOEFL course di Pare.
Kok yo bisa-bisanya mengharapkan sertifikat setara ITP di Pare dengan separasi biaya yang jauh?
Mungkin memang baru pertama berkunjung ke Pare, ini khusnudzon saya. Namun di luar segala pikiran jelek. Kejadian yang tidak hanya sekali dua kali saya temui dalam sehari memang pantas untuk kembali saya (kita) renungkan.
Jujur, bukan bermaksud untuk menyombongkan diri. Lebih dari belasan sertifikat yang saya dapatkan dari Pare, tidak pernah saya merasa bangga karenanya. Beberapa sertifikat kelulusan yang seharusnya saya dapatkan pun belum saya ambil. Legalisasi dan bukti fisik memang penting. Namun bagi saya, yang fisik juga tidak selamanya penting dan tidak jauh lebih penting jika kita bandingkan dengan esensi dari proses pembelajaran. Pun dalam beberapa seminar, training, dan perlombaan yang pernah saya ikuti. Sudah beberapa kali saya tidak mendapatkan apa yang menjadi hak saya sebagai peserta. It doesn’t matter for me in a real, coz I love doing it. J
Yang instan memang lebih menggiurkan, namun tidak selamanya yang menggiurkan dapat memberikan manfaat untuk kita. Berpijak dari premis di atas, belajar menghargai proses memang seharusnya sudah kita terapkan dalam diri kita masing-masing. tidak melulu ‘memakukan’ diri pada hasil dan bonus.
Mengadopsi analogi dari teman saya. Seorang anak kecil yang dijanjikan mendapatkan sebuah hadiah jika dia lulus dan mendapatkan nilai terbaik dalam ujian. maka akan ada dua hal yang mengikuti. Yang pertama, hadiah akan menjadi motivasi si anak untuk mendapatkan nilai terbaik, atau justru yang kedua yakni si anak hanya akan memikirkan hadiah yang dijanjikan over and over, dan menjadikannya lupa kepada apa yang seharusnya ia lakukan agar mendapatkan hadiah tersebut. Padahal tanpa memikirkan hadiahpun, dan dengan belajar yang tekun si anak akan mendapatkan hadiah tersebut. Karena pada dasarnya, hadiah dan bonus akan berhubungan lurus dengan usaha yang kita berikan. Pun jika kita menanam padi, maka dengan sendirinya rumput akan tumbuh. Namu  padi tidak akan pernah tumbuh jika kita hanya menanam rumput.
Belajar menghargai proses, biarpun sistem yang kita anut memaksa kita untuk lebih memilih hasil dari pada berlelah dalam berproses. Akan ada banyak hal yang kita dapatkan jika kita bersabar dalam bermetamorfosis. Karena proses itu mendewasakan.
Dan yang terakhir, untuk kalian yang belum dan merencanakan untuk singgah di Kampung Inggris ini, luruskan niat, enjoy the learning and living process and you will get what you want. J

1 comment:

  1. Walah miss, Tak kirain isinya ttg apa gtu miss cz judulnya dlm bgt ^^a

    Oh ini ya yg miss bilg nti mau posting di web ( swkt kls pronun ..mav ya miss baru bisa buka cz q cari2 g conect2 ntu =.=a

    Siib.Siib..Like This miss :D

    ReplyDelete