Aku
menyadari betul rasa ini dari awal aku melihatnya. Perhaps, this is what we call love in a first sight. Ini bukan
jatuh cinta yang pertama untukku. Aku sudah pernah merasakan apa yang aku
rasakan saat ini. Dan seharusnya logikaku sudah sangat pandai untuk melakukan
sesuatu yang seharusnya memang dilakukan ketika “cinta datang pada masa yang
tidak tepat”
Terhitung
sejak takdir memintaku untuk bertemu dengannya, hingga saat ini rasa itu masih
tetap sama. Tak tau kapan akan purna. Aku hanya dapat berdoa agar aku juga
dirinya mendapatkan yang terbaik di dunia dan di kehidupan setelah ini ketika
mengitung usia rasa ini, sudah dua tahun lebih ternyata. Kemana saja ia membawa
hati ini, hingga tak seorangpun aku hiraukan.
Tak
hanya sahabat dan orang terdekat yang mengkhawatirkan keadanku, memintaku untuk
kembali hidup dengan baik, dan pada akhirnya memintaku untuk melupakanya serta
memulai untuk membuka hati. Ia, yang padanya hati ini aku titipkan, pun
berkali-kali memintaku untuk berhenti memberikan rasa yang kupunya. Aku hanya
tersenyum ketika membaca huruf demi huruf yang ia tulis, meminta agar
bersiap-siap ‘sakit hati’ jika aku tetap pada apa yang aku lakukan sekarang
(mencintai). Memintaku untuk berhenti percaya pada apa yang selama ini aku
lafadzkan dalam doa-doaku.
Mencintai
dan dicintai, bak efek dopler yang seharusnya seimbang sehingga menghasilkan
frekuensi yang ideal. Mungkin cinta ini hanya berasal dari sisiku saja, dan
ketika aku menyadari hal itu, akhirnya aku harus kembali menangis, mengasihani
diri sendiri. Seperti inikah episode cinta yang harus aku jalani?
Mungkin
juga aku yang terlalu egois, memaksakan kehendak agar semuanya berjalan seperti
apa yang aku ingini. Aku minta maaf untuk hal ini. Beberapa kali ku
mempertimbangkan apa yang sahabat dan ia katakan, belajar untuk menghilangkan
rasa, dan membuka hati, namun ternyata aku pun salah ketika menyamakan logika
dengan hati.
Tidak
seharusnya aku berpura-pura lupa atau justru belajar untuk membuat aku lupa
padanya. Semua kemungkinan buruk yang dapat aku prediksi sudah aku pikirkan
jauh sebelum ia meminta aku untuk berhenti mencintainya. Dan akhirnya, aku
harus memenangkan hatiku. Aku masih tetap memiliki rasa yang sama, sama ketika
aku baru pertama melihatnya, sama ketika hati ini berbisik pada semilir angin
yang membuat tulang terasa ngilu, pada malam ketika langit berdekorasi bintang,
rasa ini masih tetap sama. This is the
way I love.
Jauh
dari aksara This is the way I
love., belakangan aku sempat ragu dengan apa yang aku lafadzkan dalam
doaku. sebuah ketidakkonsistenan. Dan aku rasa, itu adalah sebuah kewajaran
yang seharusnya tak berarti sama sekali. Berkali-kali aku merenungi apa yang
sebenarnya terjadi pada diri ini. dan lambat launpun aku mengerti bahwa apa
yang selama ini aku lakukan bukanlah sesuatu yang baik untuk diteruskan.
Sepertinya akan jauh lebih baik jika aku harus menangis sekarang dari pada
menangis berkepanjangan di hari nanti. Labil.
Aku
mencoba untuk menapak tanah, sebenar-benar tapakan. Aku siapa dan dia siapa?
satu pertanyaan yang pada akhirnya mengantarkanku pada sebuah konsekuensi HARUS
REALISTIS.
Sekarang,
aku harus memenangkan anganku, MENGGAPAI MIMPI. Banyak yang harus aku lakukan
di usiaku yang sekarang ini, dan banyak sekali hal baik yang belum aku raih.
Untuk urusan hati, terpaksa atau tanpa keterpaksaan, aku harus menundanya untuk
memenangkanya kelak. Entahlah, hinga takdir menitahku untuk memenangkanya.
No comments:
Post a Comment