Ada kala
dimana aku begitu mencintai diriku. Sebagi kompensasi apa yang selama ini aku
perintahkan untuknya, kubelikan ia baju-baju yang bagus, ia inginkan kemeja,
aku beri ia kemeja bunga-bunga, tanda hati ini berbunga, rela karenanya. Ia
inginkan aku merawat wajah karena sering kuajak ia bersapa dengan panas dan
debu, kuantar ia ke jalan Gajah Mada, berelaksasi dengan musik yang mendayu,
biar sebenarnya banyak agenda yang harus aku kerjakan selainnya. Ia inginkan
makanan hangat, kujamu ia biar hujan menjadi tantangan. Kurawat ia sepenuh
hati, hingga ia tak merasa menderita karenaku atau karena hal lain. Aku
mencintainya, sungguh.
Namun juga
ada kala dimana aku begitu kesal dengan apa yang ia lakukan. Tak patuh pada si
empunya yang memberikan ia kenyamannan. Akupun heran kenapa ia menjadi liar dan
binal bak jalang akhir-akhir ini. Bukankah segalanya telah aku perturutkan
untuknya?
Sejenak
berkontemplasi. Apa yang sebenarnya ia inginkan. Kutanya ingin makanan yang
enak? Ingin baju baru? atau buku baru? tas baru? atau apa yang harus aku
perbuat, aku mneyanggupinya. Jebol tabunganpun tak mengapa asal dapat
mengembalikan keceriaanya. Namun nampaknya usahaku tak berujung manis. Aku
masih belum mengerti apa yang ia inginkan.
Jika hal
seperti ini sudah terjadi, maka sahabat bukanlah seseorang yang tepat untuk
diajak bercurah hati, orang tuapun bukan pelarian yang akan memberikan solusi
tepat, apa lagi pacar yang aku tak pernah memiliki hingga 20 tahun lamanya.
Pergulatan
seperti ini tidak hanya sekali dua kali aku alami, apa lagi semenjak aku
menjamah belantara kampus, sering sekali labil sana-sini, ingin bebas, ingin
ini, ingin itu, tapi tak tahu apa yang harus diperbuat. Karena apa yang aku
ingini bukanlah jalan, melainkan sebuah goal berkamuflase. Dan seharusnya,
dengan seringnya aku mengalami hal tak jelas seperti ini, aku sudah paham betul
apa solusi yang harus aku ambil, atau setidaknya ada sebuah tindakan preventif
yang aku lakukan agar hal ini tak kembali terulang.
Ini sama
sekali bukan persoalan antara aku dan manusia lain, hingga bercerita pada
manusia lainpun dapat dikatakan bukan jalan yang tepat. Ini tentang aku, jiwa,
tubuh, hati, dan pikiranku. Dimana aku adalah siempu dan tuan. Dan selayaknya
menjadi seorang tuan, apa-apa yang aku ingini haruslah ada dan diadakan oleh
mereka yang berada di bawah kuasaku.
Kemarahanku
muntab untuk beberapa saat, semua membelot, tak ada yang patuh. Ini membuatku
terkadang ingin lari sejauh mungkin, menghilang sejenak dari peredaran, menjadi
orang asing yang tak seorangpun mengenal dan mengetahui siapa aku sebenarnya.
Pada akhirnya aku tersadar, tindakan ini bukanlah sifat empu yang baik, harus
aku hadapi apa-apa yang menjadi persoalanku dan masalahku, tak boleh libatkan
orang lain. Titik.
Seperti apa
yang aku katakan tadi, bahwa permasalahan ini tak tepat jika harus di ceritakan
pada ibu yang telah mengandung, Ayah yang telah memberiku penghidupan layak,
sahabat yang menjadikan hidup berwarna dengan jutaan rasa yang mengalir beramai.
Ini tentang aku dan tentang makhluk lain dalam tubuhku. Dan seyogyanya masalah
ini aku adukan pada Penciptaku, pencipta makhluk lain dalam tubuhku, Tuhan
adalah jawabanya.
Belakangan
aku mengerti kenapa aku menjadi binal seperti tak tahu adat, tak lain karena
aku sengaja atau tanpa sengaja menjauh dari kondratku menjadi hambaNYA. Dapat
dihitung dengan jari berapa kali kau menemuiNYA di sepertiga malam dalam satu
bulan belakangan ini. Berapa kali aku menahan lapar, dahaga dan napsuku dalam
sebulan terakhir ini, berapa lembar ayatNYA yang aku baca da kaji dalam
hitungan bulan kebelakang. Itu penyebabnya, dan binal tak aturan seperti ini
jadi akibatnya.
Semoga
setelahnyadapat kembali bijak menyikapi dunia ini.
Astaghfirullah… Astaghfirullah… Astaghfirullah…
No comments:
Post a Comment