Friday, November 30, 2012

Please...Sadarlah...!!!

Ada kala dimana aku begitu mencintai diriku. Sebagi kompensasi apa yang selama ini aku perintahkan untuknya, kubelikan ia baju-baju yang bagus, ia inginkan kemeja, aku beri ia kemeja bunga-bunga, tanda hati ini berbunga, rela karenanya. Ia inginkan aku merawat wajah karena sering kuajak ia bersapa dengan panas dan debu, kuantar ia ke jalan Gajah Mada, berelaksasi dengan musik yang mendayu, biar sebenarnya banyak agenda yang harus aku kerjakan selainnya. Ia inginkan makanan hangat, kujamu ia biar hujan menjadi tantangan. Kurawat ia sepenuh hati, hingga ia tak merasa menderita karenaku atau karena hal lain. Aku mencintainya, sungguh.
Namun juga ada kala dimana aku begitu kesal dengan apa yang ia lakukan. Tak patuh pada si empunya yang memberikan ia kenyamannan. Akupun heran kenapa ia menjadi liar dan binal bak jalang akhir-akhir ini. Bukankah segalanya telah aku perturutkan untuknya?

Sejenak berkontemplasi. Apa yang sebenarnya ia inginkan. Kutanya ingin makanan yang enak? Ingin baju baru? atau buku baru? tas baru? atau apa yang harus aku perbuat, aku mneyanggupinya. Jebol tabunganpun tak mengapa asal dapat mengembalikan keceriaanya. Namun nampaknya usahaku tak berujung manis. Aku masih belum mengerti apa yang ia inginkan.
Jika hal seperti ini sudah terjadi, maka sahabat bukanlah seseorang yang tepat untuk diajak bercurah hati, orang tuapun bukan pelarian yang akan memberikan solusi tepat, apa lagi pacar yang aku tak pernah memiliki hingga 20 tahun lamanya.
Pergulatan seperti ini tidak hanya sekali dua kali aku alami, apa lagi semenjak aku menjamah belantara kampus, sering sekali labil sana-sini, ingin bebas, ingin ini, ingin itu, tapi tak tahu apa yang harus diperbuat. Karena apa yang aku ingini bukanlah jalan, melainkan sebuah goal berkamuflase. Dan seharusnya, dengan seringnya aku mengalami hal tak jelas seperti ini, aku sudah paham betul apa solusi yang harus aku ambil, atau setidaknya ada sebuah tindakan preventif yang aku lakukan agar hal ini tak kembali terulang.
Ini sama sekali bukan persoalan antara aku dan manusia lain, hingga bercerita pada manusia lainpun dapat dikatakan bukan jalan yang tepat. Ini tentang aku, jiwa, tubuh, hati, dan pikiranku. Dimana aku adalah siempu dan tuan. Dan selayaknya menjadi seorang tuan, apa-apa yang aku ingini haruslah ada dan diadakan oleh mereka yang berada di bawah kuasaku.
Kemarahanku muntab untuk beberapa saat, semua membelot, tak ada yang patuh. Ini membuatku terkadang ingin lari sejauh mungkin, menghilang sejenak dari peredaran, menjadi orang asing yang tak seorangpun mengenal dan mengetahui siapa aku sebenarnya. Pada akhirnya aku tersadar, tindakan ini bukanlah sifat empu yang baik, harus aku hadapi apa-apa yang menjadi persoalanku dan masalahku, tak boleh libatkan orang lain. Titik.
Seperti apa yang aku katakan tadi, bahwa permasalahan ini tak tepat jika harus di ceritakan pada ibu yang telah mengandung, Ayah yang telah memberiku penghidupan layak, sahabat yang menjadikan hidup berwarna dengan jutaan rasa yang mengalir beramai. Ini tentang aku dan tentang makhluk lain dalam tubuhku. Dan seyogyanya masalah ini aku adukan pada Penciptaku, pencipta makhluk lain dalam tubuhku, Tuhan adalah jawabanya.
Belakangan aku mengerti kenapa aku menjadi binal seperti tak tahu adat, tak lain karena aku sengaja atau tanpa sengaja menjauh dari kondratku menjadi hambaNYA. Dapat dihitung dengan jari berapa kali kau menemuiNYA di sepertiga malam dalam satu bulan belakangan ini. Berapa kali aku menahan lapar, dahaga dan napsuku dalam sebulan terakhir ini, berapa lembar ayatNYA yang aku baca da kaji dalam hitungan bulan kebelakang. Itu penyebabnya, dan binal tak aturan seperti ini jadi akibatnya.
Semoga setelahnyadapat kembali bijak menyikapi dunia ini.
Astaghfirullah… Astaghfirullah… Astaghfirullah…






No comments:

Post a Comment