Pagi ini, hari
ini, sebelum berangkat ke kampus saya sengaja berlama-lama di depan cermin.
Bukan karena sedang jatuh cinta, Ingin saja mengenal lebih dalam seseorang di cermin
sana, yang tak lain adalah diri saya. Lumayan manis, biar tak masuk yang orang kategorikan
cantik, yang penting good looking lah ya [LOL]. Tapi sebenarnya bukan itu yang
ingin saya sampaikan disini.
Pagi ini, hari
ini, tanpa sadar saya salah memasukan kancing baju kemeja saya, Kancing baju
paling atas masuk di rumah kancing kedua dari atas, sehingga menjadikan kemeja yang
saya kenakan terlihat tak seimbang, antara sisi kanan dan sisi kiri. Bagaimana
membahasakan kejadian ini dengan baik ya? Orang Jawa khususnya di daerah tempat
saya lahir biasa menyebutnya dengan ‘junjing’ tak tahu jika orang Jawa di
daerah lain. Sepertinya terminologi yang kita miliki dalam bahasa Indonesia
memang terbatas. Namun, saya yakin tak sedikit orang juga pernah mengalaminya.
Pagi ini, hari
ini, kejadian pagi ini yang kemudian mengantarkan saya pada ribuan hari silam
dan ratusan kilometer jarak dari tempat berpijak saya saat ini.
Pagi ini, hari
yang lalu, saya bertemu dengan sosok mulia, saya panggi ia Ibu. Usia saya masih
lima tahunan, hari-hari pertama memasuki Sekolah Dasar. Usai ritual mandi pagi,
kini giliran Ibu mengambil alih tubuh mungil saya. Sudah dipersiapkan oleh Ibu
minyak kayu putih, seragam merah putih, sisir, pita, dan aksesoris lainnya.
Pagi ini, hari
yang lalu, telapak tangan Ibu menyapu perut saya, ramuan kayu putih menambah
aroma hangat pagi yang lumayan mendung, seperti pagi ini pada hari ini,
mendung.
Pagi ini, hari
yang lalu, seperti pagi-pagi yang akan datang hingga saya sudah dianggap mapan
untuk melakukan segala sesuatunya tentang persiapan berangkat sekolah dengan
mandiri. Ibu membimbing saya mengenakan seragam merah putih. Kemeja putih sudah
saya kenakan, masih giliran Ibu mengambil bagian. Dikancingkannya kemeja saya.
Dari bawah ke atas, bukan dari atas ke bawah seperti yang selama ini banyak
saya lakukan.
Pagi ini, hari
yang lalu, rambut kepang kuda, pita sana-sini, aroma kayu putih, sepatu, tas,
dan usai sudah ritual persiapan sekolah. Dan, agenda hari-hari berikutnya adalah
sama, hingga saya mempunyai saudara muda, dan dirasa mampu melakukan segala
sesuatunya sendiri.
Pagi ini, hari
ini, kenangan lalu dengan Ibu, yang pada akhirnya memberi ruh baru untuk selalu
melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, dari bawah ke atas, dari yang
kecil ke yang besar, begitu seterusnya.
Pagi ini, hari
ini, setelah berfantasi dengan masa lalu, saya melenggang ke kampus. Banyak
yang dapat kita capai untuk hari esok. Terima kasih untuk filosofi kancing baju
ini Ibu.
No comments:
Post a Comment