Friday, February 17, 2012

Bukan Cinta Segitiga, Ini Cinta banyak Segi... :)

            Perpus lagi…
            Tempat ini seperti menjadi peraduanku sejak beberapa bulan yang lalu…Hari ini, kembali menelusuri lorong panjang, sendiri, gelap, dan sunyi… hal yang paling aku takuti dalam hidup…

Aku 15 tahun yang lalu…
            Menjadi gadis kecil yang lincah…tak pernah gundah apalagi bersedih...sesekali air matanya mengalir hanya karena eskrim yang tidak dibelikan oleh sang ibu…
            “Kalo pilek gag boleh makan es krim” nasehat sang ibu, santun.
            Entah ilmuan mana yang memberi tahu sang ibu tentang hal itu, yang jelas setelah beberapa tahun kedepan, gadis cilik ini mencoba mencari tahu tentang mitos itu, dan ternyata memang hanya mitos.
            Dari kelas satu sekolah dasar, selalu menjadi murid kesayangan guru-guru di sekolah -entah kenapa, yang jelas bukan karena prestasi, karena memang tak pernah menjadi juara kelas :D-, masih teringat ketika duduk di kelas empat, seorang ibu guru rela menemani tidur di tenda, ketika festival pramuka, dipeluknya erat-erat gadis kecil ini, seperti tak mau kehilangan.
            Beberapa kawan selalu menanyakan kenapa tak pernah terlihat bersedih, murung, selalu saja ceria, bawel dan cerewet.
            Yang ditanya hanya ber-o ria, tersenyum setelahnya.
Aku 9 tahun silam…
            Dari putih-merah, sekarang menjelma menjadi putih-biru…
            Bukan sekolah impian yang sebenarnya…naluri seorang ibu yang menjadikan gadis kecilnya mendaftar di sekolah merah ini.  Dress Code kesukaannya adalah putih biru, dasi lengkap dengan kepang kuda buatan sang Ibu.
            Menjalani hari-hari seperti yang kebanyakan remaja putri lakukan. Kadang bolos sekolah ikut mewarnai masa pubertas.
            Pertanyaan yang selalu muncul dari mulut-mulut mungil itu…
            “Kok gag pernah liat kamu sedih ya??” Ucap sang ketua kelas.
            Dan yang ditanya pun hanya membalas dengan senyuman…
Aku di 6 tahun yang telah lalu…
            Sekarang menjadi putih-abu abu…
            Jauh dari kehadiran keluarga membuat gadis -yang tidak tepat dipanggil gadis kecil lagi- belajar untuk mandiri, ini masa-masa adaptasi yang sulit sekali.
            14 tahun selalu bersama keluarga, sekolah diantar, ke tempat les, ke pasar juga ditemani. Kala hujan, Ayah selalu siap sedia dengan payung hitamnya. Ketika itu hujan dengan lebatnya mengguyur setiap sisi perkampungan. Awan gelap segera menyelimuti langit, petir menyambar, seperti memperlihatkan kegagahannya pada elang dan rajawali. Menunggu dalam ketakutan di depan TPA usang, tak disangka, sang Ayah datang dengan payung hitam kebanngaanya. Bahagia rasanya berada didekatnya sembari menghirup aroma hujan. :)
            Ah..mengingatnya hanya membuat pipi ini basah. Aku benar-banar merinduinya.
            Cinta sepertinya tak pernah mampir di hati sang gadis. Mungkin karena intensitas pertemuan dengan lawan jenis yang sangat jarang.
            Babarapa kali mendapat pertanyaan yang selalu diulang-ulang…
            “Kamu gag pernah sedih ya, keliatannya??”
            Seperti dejavu, yang ditanya balik bertanya dengan senyum sumringah tanpa beban.
            “Iyakah??”
aku 3 tahun ke belakang.
            Kini perjalananku di lorong waktu semakin dekat denganku disaat ini.
            Belum sukses diterima di jurusan dan perguruan tinggi favorit menjadikanku agak sedikit terpuruk, membayangkan masa depan yang sepertinya tidak akan gemilang seperti yang aku impikan.
            Ini pertama kali aku menangis tanpa henti, sang ibu turut larut dalam tangis, membersamai putrinya.
            “Belum diterima, bukan berarti tidak diterima” tutur ibu bijak.
            Ayah dan ibu hampir tidak pernah menuntut anak-anaknya untuk ini, itu, begini, begitu…harus diterima disini, harus pintar, harus rajin. Yang penting menjadi yang berguna untuk ummat, itu saja.
            Beberapa kali ayah mengalihkan kesedihanku dengan membawakan makanan atau barang-barang yang aku suka sepulang kerja. Tahukah kau wahai ayah yang baik hatinya, tegar jiwanya? Ini justru membuatku semakin merasakan sakit, penghianatanku terhadapmu semakin nyata terlihat, aku mengecewakanmu.
            Dan akhirnya keputusan ini kuambil. Aku pergi ke kampung kecil, Pare. Berharap semuanya akan mengobati kekecewaan. Ayah sumringah.
            Masa adaptasi, dari asrama ke kost semi asrama. Menjalani hari dengan beban yang semakin berkurang disetiap detiknya. Senang bukan main rasanya, ketika mimpi-mimpi dapat kembali aku sulam.
            Dan kudapati pertanyaan-pertannyaan yang selalu diulang.
            “Ceria terus, punya uang, gag punya uang sama aja yaa…gag pernah sedih” kata seorang teman sekaligus guruku sembari mengkerutkan dahi, heran. Kembali hanya membalasnya dengan senyuman diiringi tawa tanpa beban.
2010, 2 tahun silam hingga saat ini.
            Tidak lolos di jurusan dan perguruan tinggi dambaan, kali ini aku menyebutnya tidak lolos, bukan belum lolos lagi. Terserah dengan apa yang akan dikatakan orang, aku benar-benar meyerah.
            Universitas Muhammadiyah Surakarta, that’s what I call my destiny. Sekarang dan untuk yang akan dating, bagaimana untuk menerima takdir dengan kelapangan.            
            “UMS juga gag jelek-jelek amat kok” Batinku menghibur.
            WaktuNya terajut dengan sempurna, rasanya baru kemaren sore aku masih mengenakan kemeja putih dan rok hitam lengkap dengan pernak-pernik ala OSPEK dan kemaren aku baru menerima raport semerter 3, sedikit mengalami penurunan dari semester lalu, tapi taka pa lah, semua itu buah dari pertaruhan integritas dalam pesta intelektual. Aku jujur, aku gag nyontek, aku tampil apa adanya aku, dan aku bangga dengan hasilnya.           
            Beberapa kawan baik dikelas maupun di organisasi, silih berganti kembali menanyakan pertanyaan yang intinya sama.
            “Kamu kok biasa aja ya…kandisi apapun tetap sama…gag pernah keliatan sedih…”
Kali ini aku hanya membalasnya dengan senyum getir…           
            “Kerlalu berlebihan” batinku.
            Hingga saat ini, aku masih dikenal dengan pribadi yang datar…
            Ibu selalu memintaku untuk menyembunyikan rasa sakit, menyembunyikan tangis. Aku belajar banyak ketabahan dari perempuan yang rela membagi separo nyawanya, bahkan lebih.
            Aku belajar ketegaran dari seorang ayah, yang dengan peluh dan keringatnya aku dapat menjadi seperti ini.
            Aku begitu merindui mereka.
            Aku katakan, sesiapa yang belum pernah melihat dan atau mendengarku menangis, berarti mereka kurang memahamiku sebagai sahabat.
            Gadis kecil itu kini tak menangis karena meronta kepada ibunya untuk sebuah es krim, bukan karena sebuah boneka atau baju baru yang tak diberi oleh sang ayah. Kini ia menangis karena RASA.
            Selalu saja klasik begini ...klise...dan hampir membosankan.
            Cinta banyak segi…

*To be contibued









2 comments: