Perpus lagi…
Tempat ini seperti menjadi peraduanku sejak beberapa bulan yang lalu…Hari ini,
kembali menelusuri lorong panjang, sendiri, gelap, dan sunyi… hal yang paling
aku takuti dalam hidup…
Aku 15 tahun yang lalu…
Menjadi gadis kecil yang lincah…tak pernah gundah apalagi bersedih...sesekali
air matanya mengalir hanya karena eskrim yang tidak dibelikan oleh sang ibu…
“Kalo pilek gag boleh makan es krim” nasehat sang ibu, santun.
Entah ilmuan mana yang memberi tahu sang ibu tentang hal itu, yang jelas
setelah beberapa tahun kedepan, gadis cilik ini mencoba mencari tahu tentang
mitos itu, dan ternyata memang hanya mitos.
Dari kelas satu sekolah dasar, selalu menjadi murid kesayangan guru-guru di
sekolah -entah kenapa, yang jelas bukan karena prestasi, karena memang tak
pernah menjadi juara kelas :D-, masih teringat ketika duduk di kelas empat,
seorang ibu guru rela menemani tidur di tenda, ketika festival pramuka,
dipeluknya erat-erat gadis kecil ini, seperti tak mau kehilangan.
Beberapa kawan selalu menanyakan kenapa tak pernah terlihat bersedih, murung,
selalu saja ceria, bawel dan cerewet.
Yang ditanya hanya ber-o ria, tersenyum setelahnya.
Aku 9 tahun silam…
Dari putih-merah, sekarang menjelma menjadi putih-biru…
Bukan sekolah impian yang sebenarnya…naluri seorang ibu yang menjadikan gadis
kecilnya mendaftar di sekolah merah ini. Dress Code kesukaannya adalah
putih biru, dasi lengkap dengan kepang kuda buatan sang Ibu.
Menjalani hari-hari seperti yang kebanyakan remaja putri lakukan. Kadang bolos
sekolah ikut mewarnai masa pubertas.
Pertanyaan yang selalu muncul dari mulut-mulut mungil itu…
“Kok gag pernah liat kamu sedih ya??” Ucap sang ketua kelas.
Dan yang ditanya pun hanya membalas dengan senyuman…
Aku di 6 tahun yang telah lalu…
Sekarang menjadi putih-abu abu…
Jauh dari kehadiran keluarga membuat gadis -yang tidak tepat dipanggil gadis
kecil lagi- belajar untuk mandiri, ini masa-masa adaptasi yang sulit sekali.
14 tahun selalu bersama keluarga, sekolah diantar, ke tempat les, ke pasar juga
ditemani. Kala hujan, Ayah selalu siap sedia dengan payung hitamnya. Ketika itu
hujan dengan lebatnya mengguyur setiap sisi perkampungan. Awan gelap segera
menyelimuti langit, petir menyambar, seperti memperlihatkan kegagahannya pada elang
dan rajawali. Menunggu dalam ketakutan di depan TPA usang, tak disangka, sang
Ayah datang dengan payung hitam kebanngaanya. Bahagia rasanya berada didekatnya
sembari menghirup aroma hujan. :)
Ah..mengingatnya hanya membuat pipi ini basah. Aku benar-banar merinduinya.
Cinta sepertinya tak pernah mampir di hati sang gadis. Mungkin karena
intensitas pertemuan dengan lawan jenis yang sangat jarang.
Babarapa kali mendapat pertanyaan yang selalu diulang-ulang…
“Kamu gag pernah sedih ya, keliatannya??”
Seperti dejavu, yang ditanya balik bertanya dengan senyum sumringah tanpa
beban.
“Iyakah??”
aku 3 tahun ke belakang.
Kini perjalananku di lorong waktu semakin dekat denganku disaat ini.
Belum sukses diterima di jurusan dan perguruan tinggi favorit menjadikanku agak
sedikit terpuruk, membayangkan masa depan yang sepertinya tidak akan gemilang
seperti yang aku impikan.
Ini pertama kali aku menangis tanpa henti, sang ibu turut larut dalam tangis,
membersamai putrinya.
“Belum diterima, bukan berarti tidak diterima” tutur ibu bijak.
Ayah dan ibu hampir tidak pernah menuntut anak-anaknya untuk ini, itu, begini,
begitu…harus diterima disini, harus pintar, harus rajin. Yang penting menjadi
yang berguna untuk ummat, itu saja.
Beberapa kali ayah mengalihkan kesedihanku dengan membawakan makanan atau
barang-barang yang aku suka sepulang kerja. Tahukah kau wahai ayah yang baik
hatinya, tegar jiwanya? Ini justru membuatku semakin merasakan sakit,
penghianatanku terhadapmu semakin nyata terlihat, aku mengecewakanmu.
Dan akhirnya keputusan ini kuambil. Aku pergi ke kampung kecil, Pare. Berharap
semuanya akan mengobati kekecewaan. Ayah sumringah.
Masa adaptasi, dari asrama ke kost semi asrama. Menjalani hari dengan beban
yang semakin berkurang disetiap detiknya. Senang bukan main rasanya, ketika
mimpi-mimpi dapat kembali aku sulam.
Dan kudapati pertanyaan-pertannyaan yang selalu diulang.
“Ceria terus, punya uang, gag punya uang sama aja yaa…gag pernah sedih” kata
seorang teman sekaligus guruku sembari mengkerutkan dahi, heran. Kembali hanya
membalasnya dengan senyuman diiringi tawa tanpa beban.
2010, 2 tahun silam hingga saat ini.
Tidak lolos di jurusan dan perguruan tinggi dambaan, kali ini aku menyebutnya
tidak lolos, bukan belum lolos lagi. Terserah dengan apa yang akan dikatakan
orang, aku benar-benar meyerah.
Universitas Muhammadiyah Surakarta, that’s what I call my destiny. Sekarang dan
untuk yang akan dating, bagaimana untuk menerima takdir dengan kelapangan.
“UMS juga gag jelek-jelek amat kok” Batinku menghibur.
WaktuNya terajut dengan sempurna, rasanya baru kemaren sore aku masih
mengenakan kemeja putih dan rok hitam lengkap dengan pernak-pernik ala OSPEK
dan kemaren aku baru menerima raport semerter 3, sedikit mengalami penurunan
dari semester lalu, tapi taka pa lah, semua itu buah dari pertaruhan integritas
dalam pesta intelektual. Aku jujur, aku gag nyontek, aku tampil apa adanya aku,
dan aku bangga dengan hasilnya.
Beberapa kawan baik dikelas maupun di organisasi, silih berganti kembali
menanyakan pertanyaan yang intinya sama.
“Kamu kok biasa aja ya…kandisi apapun tetap sama…gag pernah keliatan sedih…”
Kali ini aku hanya membalasnya dengan senyum
getir…
“Kerlalu berlebihan” batinku.
Hingga saat ini, aku masih dikenal dengan pribadi yang datar…
Ibu selalu memintaku untuk menyembunyikan rasa sakit, menyembunyikan tangis.
Aku belajar banyak ketabahan dari perempuan yang rela membagi separo nyawanya,
bahkan lebih.
Aku belajar ketegaran dari seorang ayah, yang dengan peluh dan keringatnya aku
dapat menjadi seperti ini.
Aku begitu merindui mereka.
Aku katakan, sesiapa yang belum pernah melihat dan atau mendengarku menangis,
berarti mereka kurang memahamiku sebagai sahabat.
Gadis kecil itu kini tak menangis karena meronta kepada ibunya untuk sebuah es
krim, bukan karena sebuah boneka atau baju baru yang tak diberi oleh sang ayah.
Kini ia menangis karena RASA.
Selalu saja klasik begini ...klise...dan hampir membosankan.
Cinta banyak segi…
*To be contibued
ihhiiiy..ayyoo lanjutkan diinn..!!! :D
ReplyDeleteHahahay....
ReplyDeletekalo mood lagi mbaaak....
:D