Sore ini aku terbangun…
Sakit sekali ketika aku mengingatnya…orang yang dengannya keluh kesah kusandarkan, cinta dan sayang kucurahkan ternyata ia lebih mencintai orang lain.
Sesaat aku mengira bahwa semuanya adalah mimpi buruk, karena aku baru saja terjaga dari lelapku. Namun ketika aku kembali menelusuri lorong demi lorong sempit nan gelap, kudapati bahwa semuanya ada dan nyata, seperti tak ubahnya menelan pil pahit. Tidurku barusan hanya sebuah pelarian tanpa jawaban, agar aku temui kesimpulan kamuflase bahwa semuanya adalah mimpi, ya, mimpi buruk.
Sesekali aku berbaik sangka, menamakan ini sebagai masa lalu, hanya masa lalu, yang dengannya hidup ini akan selalu melakukan pembelajaran.
Dan pada akar, pohon akan saling bertopang, biar badai ataupun katostropik yang lebih menggelegahpun, pohon akan selalu kuat jika akarnya kuat. Bagiku, semuanya tentang mengokohkan akar itu.
Ada sebuah kesangsian ketika aku masih harus bertahan pada jalan ini, kesangsian dengan bertahan untuk tetap mencintainya. Sesegera mungkin kuhapus semua keraguan itu. “ah, ini masalah waktu…ribuan detik yang terangkai dan pada akhirnya menjadi hari, minggu, bulan, dan tahun akan mengobati luka ini” batin yang menghibur tuannya.
Aku tahu persis, bagaimana tulisan-tulisannya mendongeng tentang gadisnya..mengagumi gadisnya..ingin bersama gadisnya..sakit jika ada yang merebut gadisnya. Menceritakannya dengan lugas tentang gadisnya itu…tak sadarkah ia dengan siapa ia bercerita?
“Duuh, sekuat itukah hati ini Tuhan…” batin ini mulai gontai.
Tangisku pecah dalam diam…
Aku sangsi…aku ragu…harus kulabuhkan kemana rasa ini…
Bumi Bengawan-Dalam Kesangsian Hati
No comments:
Post a Comment