Tuesday, January 8, 2013

Kancing Baju

Pagi ini, hari ini, sebelum berangkat ke kampus saya sengaja berlama-lama di depan cermin. Bukan karena sedang jatuh cinta, Ingin saja mengenal lebih dalam seseorang di cermin sana, yang tak lain adalah diri saya. Lumayan manis, biar tak masuk yang orang kategorikan cantik, yang penting good looking lah ya [LOL]. Tapi sebenarnya bukan itu yang ingin saya sampaikan disini.
Pagi ini, hari ini, tanpa sadar saya salah memasukan kancing baju kemeja saya, Kancing baju paling atas masuk di rumah kancing kedua dari atas, sehingga menjadikan kemeja yang saya kenakan terlihat tak seimbang, antara sisi kanan dan sisi kiri. Bagaimana membahasakan kejadian ini dengan baik ya? Orang Jawa khususnya di daerah tempat saya lahir biasa menyebutnya dengan ‘junjing’ tak tahu jika orang Jawa di daerah lain. Sepertinya terminologi yang kita miliki dalam bahasa Indonesia memang terbatas. Namun, saya yakin tak sedikit orang juga pernah mengalaminya.

Friday, November 30, 2012

Please...Sadarlah...!!!

Ada kala dimana aku begitu mencintai diriku. Sebagi kompensasi apa yang selama ini aku perintahkan untuknya, kubelikan ia baju-baju yang bagus, ia inginkan kemeja, aku beri ia kemeja bunga-bunga, tanda hati ini berbunga, rela karenanya. Ia inginkan aku merawat wajah karena sering kuajak ia bersapa dengan panas dan debu, kuantar ia ke jalan Gajah Mada, berelaksasi dengan musik yang mendayu, biar sebenarnya banyak agenda yang harus aku kerjakan selainnya. Ia inginkan makanan hangat, kujamu ia biar hujan menjadi tantangan. Kurawat ia sepenuh hati, hingga ia tak merasa menderita karenaku atau karena hal lain. Aku mencintainya, sungguh.
Namun juga ada kala dimana aku begitu kesal dengan apa yang ia lakukan. Tak patuh pada si empunya yang memberikan ia kenyamannan. Akupun heran kenapa ia menjadi liar dan binal bak jalang akhir-akhir ini. Bukankah segalanya telah aku perturutkan untuknya?

Tuesday, October 30, 2012

Pemuja aksara

Pemuja aksara
Hampir-hampir semua yang ada di dunia ini tak akan menjadi arti dan berarti jika tak ada aksara yang mewakili setiap ekspresi.
Dosen saya bilang, yang membuat pembaca menjadi liar, sedih, bahagia, menangis, bahkan terbahak bukanlah si empunya buku, melainkan kata-kata, melainkan rangkaian aksara.
Yah, begitulah aksara. Tak pernah terlahir dari rahim ibu dan tak pernah mati berkalang tanah. Aksara itu bahkan akan tetap hidup di tengah kematian para penulisnya.
Sebegitu hebatkah aksara itu?
Sampai-sampai jika manusia ingin menguasai dunia, ia harus menaklukan jutaan aksara yang dipatri dalam kitab.
Saya juga tak dapat membayangkan, apa jadinya jika dunia tak beraksara.
Kosong, sunyi, dan hampa.
Dunia gelap dan tak bernapas.
Membosankan bahkan menyakitkan.
Dan pada akhirnya muncul sebuah konklusi..
Bahwa
Para penulis itu…
Ah, para penulis itu…
Dan para manusia itu…
Tak lain adalah para pemuja aksara…


Monday, October 29, 2012

Ilang Inspirasi


Mengapa seperti tak punya sesuatu yang dapat ditumpahkan dalam beberapa aksara?
Padahal sebelumnya, saya amat bersemangat untuk menulis.
Inspirasi itu datang dimana saja, kapan saja, di jalanan menuju kampus, di tempat diskusi favorit (baca: angkringan), di dalam kelas ketika mendengarkan ceramah dosen yang tak ada putusnya, di taman kampus ketika menunggu seseorang, di parkiran kampus yang berantakan, di kantor ormawa yang pengap, diatas bus yang membawa diri ke tanah kelahiran, dimana-mana.
Dan saat ini, detik ini, saat-saat seharusnya saya menumpahkan apa yang saya niatkan untuk saya tulis, tapi kenapa tak ada satupun inspirasi ynag dapat saya sampaikan lewat aksara.
Karena menulis adalah bakat, karena menulis adalah darah yang ‘kadung’ mengalir di tubuh, karena menulis adalah pembawaan dan bawaan, yang pada akhirnya berkesimpulan bahwa menulis adalah keturunan.
Benarkah?
Mungkin ada benarnya juga.
Tapi saya percaya, akan banyak pihak yang menyalahkan premis di atas.
Entahlah mana benar, mana salah.
Just enjoy whatever I do, I have, and I love…
:D

Monday, October 8, 2012

Ada Banyak Alasan untuk Mencintainya

Terkadang limbung juga.
Kenapa logikaku benar-benar tak dapat difungsikan jika cinta datang menyapa.
Ah..sebegitu besarkah aku mencintainya, hingga sepertinya tak ada lelaki yang pantas aku sapa karena terhalang oleh cinta buta kepadanya.
Bukan, ini bukan cinta buta.
Ada banyak alasan kenapa aku bisa benar-benar jatuh hati padanya.